Jelang Lengser, Islah Bahrawi Khawatirkan Sikap Jokowi Bergeser dari Negarawan jadi Politisi
VISI.NEWS | BANDUNG - Pengamat gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia Islah Bahrawi mengkhawatirkan bergesernya sikap Presiden Jokowi menjelang akhir masa jabatannya dari seorang Negarawan menjadi Politisi.
"Apa yang saya tulis tentang rasa khawatir itu sepertinya menumbuhkan janin (meski batin saya masih berharap tidak). Jokowi rasa-rasanya mulai mencari "pintu keluar" sebagai Politisi, tidak lagi sebagai Negarawan. Tidak lagi sama seperti halnya ketika dia pertama kali memasuki aula besar bernama Indonesia," ujarnya dalam cuitan di akun X-nya (twitter) @islah_bahrawi Selasa (26/9/2023) pukul 17.19 WIB.
Ketika itu, tulisnya, seorang Jokowi yang tidak memiliki partai dan bukan ketua umum partai, melejit dalam hitungan sebentar. Takdirnya cemerlang. Banyak elit politik yang memaksa benci - mungkin karena takjub atau bisa jadi iri - seorang "manusia antah berantah" tiba-tiba jadi presiden.
"Ketika itu saya menyimpulkan; inilah Negarawan. Inilah demokrasi. Kerinduan itu bersambut, mengingat bangsa ini sejak dulu lebih gemar melahirkan Politisi ketimbang bersalin untuk Negarawan. Dari ratusan juta manusia di negara ini mencari segelintir Negarawan sungguh betapa sulitnya. Seperti mencari sebatang Christiano Ronaldo ditumpukan jerami 270 juta rakyat Indonesia, " ungkap Cak Islah.
Tapi Levitsky dan Ziblatt, katanya, mungkin ada benarnya. Justeru yang harus dikawal adalah ketika seseorang yang jadi pemimpin dengan popularitas tinggi. Lengah sedikit, popularitas itu akan menggiringnya jadi politisi yang memikirkan stabilitas diri bukan lagi negarawan yang memikirkan bangsa di masa depan.
Kata Ziblatt, kutip Islah, pemimpin yang populer semakin lama akan membangun intoleransi partisan agar bandul politik selalu berada di tangannya. Dia akan berupaya membangun jaminan dukungan dari mayoritas agar purna tugasnya mendarat dengan aman. Jika tidak hati-hati, situasi inilah yang membuat seorang pemimpin populer bisa menjelma jadi otoritarian samar pada masa-masa akhir jabatan.
"Saya masih yakin Pak Jokowi bukan seperti apa yang ditulis dalam buku "How Democracies Die". Meski Kaesang langsung jadi Ketum partai, saya belum berburuk sangka. Saya yakin pak Jokowi masih waras berfikir bahwa bukan begini cara menyelamatkan anak-anaknya pasca dirinya lengser. Bukan begini," katanya.
Dia juga yakin anak-anak Jokowi pasti berfikir bahwa status bapaknya hari ini tidak akan menjamin status dirinya suatu hari ini nanti. "Kaesang jadi Ketum partai dalam hitungan hari karena dia anak seorang Jokowi. Itu jelas. Tapi kelak akan ada masa di mana bapaknya hanya bagian dari sejarah bangsa," lanjutnya.
Bahkan, Islah lebih lanjut, bisa saja mereka yang tidak suka kepada pak Jokowi hari ini, kelak akan melampiaskan balas kepada anak-anaknya. Karena begitulah dunia politik bekerja. Soal kawan dan lawan tergantung seberapa besar konsesi politik bisa ditakar.
"Itulah mengapa saya masih berharap, "exit strategy" Pak Jokowi bukan melalui manuver-manuver politik. Saya masih berharap pak Jokowi beserta keluarganya tetap menjadi Negarawan yang disambut hangat oleh demokrasi dan dihantar dengan hangat oleh demokrasi. Pak Jokowi beserta jasa-jasanya tak boleh lenyap hanya karena tidak lagi dicatat birokrasi," ungkap Islah.
Dia masih berharap negara ini akan melahirkan tukang kayu berikutnya untuk jadi presiden. Tidak harus "berdarah biru" untuk jadi presiden, atau harus jadi anak presiden untuk menjadi presiden. Semua ini hanya bisa terjadi di alam demokrasi dengan supremasi sipil sebagai tulang punggungnya. "Sesuai cita-cita reformasi, " pungkasnya.
@mpa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!