Jejak Panjang Sang Penggebuk Drum: Yaya Moektio Tutup Usia, Musisi Senior Kenang Dedikasinya
VISI.NEWS | JAKARTA – Dunia musik Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok terbaiknya. Yaya Moektio, mantan drummer God Bless yang dikenal melalui perjalanan panjangnya sejak era 1970-an, meninggal dunia pada Minggu (8/12) pukul 04.00 WIB di RS Fatmawati, Jakarta. Kabar ini disampaikan keluarga besar God Bless melalui unggahan resmi mereka dan langsung menggema di kalangan musisi yang pernah bekerja sama dengannya.
Dalam perbincangan singkat, gitaris senior Ian Antono menggambarkan Yaya sebagai pribadi yang tekun dan sangat menghormati musik. Ian mengenang momen ketika Yaya selalu tiba lebih awal saat latihan, sebuah kebiasaan yang menunjukkan kedisiplinannya. Ia menyebut sosok Yaya sebagai rekan seperjuangan yang energinya selalu menghidupkan suasana studio.
Pernyataan senada datang dari Donny Fattah, yang menyebut Yaya sebagai bagian yang melekat dalam perjalanan panjang God Bless. Donny mengingat betul bagaimana Yaya memberi warna pada setiap proses kreatif di dalam band. Ia menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam serta harapan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Jejak musik Yaya Moektio dimulai sejak tahun 1970-an. Namanya mulai mencuri perhatian publik ketika ia membentuk grup Barata yang kemudian berubah menjadi Cockpit pada era 1980-an. Cockpit dikenal sebagai band yang kerap membawakan lagu-lagu Genesis dan menjadi salah satu ikon bagi penggemar progressive rock saat itu. Yaya bermain bersama sejumlah musisi besar seperti almarhum Roni Harahap, Oding Nasution, Raidy Noor, dan Freddy Tamaela.
Sebelum Cockpit, Yaya telah lebih dulu dikenal melalui Prambors Band pada 1978, kelompok musik yang menjadi home band Radio Prambors Rasisonia. Bersama band tersebut, ia mengiringi para finalis Lomba Cipta Lagu Remaja yang kemudian melahirkan banyak penyanyi muda berbakat.
Perjalanan Yaya berlanjut ketika pada tahun 1991 ia bergabung dengan Gong 2000, band bentukan Ian Antono setelah hengkang dari God Bless. Formasi Gong 2000 melahirkan sejumlah lagu hits seperti “Menanti Kejujuran”, “Rindu Damai”, dan “Bara Timur”. Kehadiran Yaya turut memperkuat karakter musik band tersebut, yang dikenal energik dan penuh eksplorasi.
Pada 2009, Yaya kembali bersentuhan dengan God Bless ketika ia resmi bergabung menggantikan Gilang Ramadhan. Bersama band rock legendaris itu, ia turut merekam album Godbless 36th. Meski kemudian digantikan oleh Fajar Satritama pada 2012, kontribusinya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan band tersebut.
Kepergian Yaya Moektio meninggalkan duka mendalam sekaligus jejak yang tak terlupakan. Para musisi yang pernah bersamanya sepakat bahwa Yaya adalah simbol dedikasi dan totalitas dalam bermusik. Ia bukan hanya seorang drummer, tetapi penjaga semangat bagi banyak musisi di generasinya maupun setelahnya.
Musik Indonesia tak hanya kehilangan seorang pemain drum, tetapi seorang tokoh yang hidup sepenuhnya untuk dunia yang dicintainya. Sosoknya mungkin telah pergi, namun hentakan ritme dan dedikasi yang ia wariskan akan terus mengalun dalam sejarah musik tanah air. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!