Islam Tekankan Akhlak ke Tetangga, Bukan Sekadar Rutin Beribadah
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 31 Juli 2025 | 23:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Ibadah yang rajin belum tentu jaminan masuk surga jika akhlak terhadap sesama masih buruk, terutama terhadap tetangga. Hal ini ditegaskan dalam berbagai riwayat yang menggambarkan pentingnya menjaga lisan dan bersikap baik kepada lingkungan sekitar.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang wanita yang rajin salat malam, berpuasa, dan bersedekah, namun gemar menyakiti tetangganya dengan kata-kata. Rasulullah menjawab tegas,
"Wahai Rasulullah, si fulanah banyak mengerjakan sholat di tengah malam, bersedekah dan berpuasa. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya."
Rasulullah SAW menjawab, "Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan wanita itu di neraka."
Orang itu berkata lagi, "Terdapat wanita lain. Si fulanah dikenal kurang melaksanakan puasa dan salat, ia hanya bersedekah dengan sekerat keju dan tidak menyakiti tetangganya."
Beliau bersabda, "Wanita itu di surga." (HR Ahmad)
Ajaran ini sejalan dengan perintah Allah dalam surah An-Nisa ayat 36.
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri."
Tak hanya soal tetangga, lisan juga menjadi ujian besar dalam beragama. Dalam riwayat lain, dikisahkan dua lelaki bersaudara dari Bani Israil. Salah satunya rajin ibadah, sementara yang lain kerap bermaksiat. Si ahli ibadah berulang kali menegur saudaranya, hingga akhirnya berkata.
"Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu." atau "Dia tidak akan memasukkanmu ke surga."
Ucapan itu justru menjadi bumerang. Allah kemudian berfirman bahwa Dia telah mengampuni sang pendosa dan menghapus amal si ahli ibadah karena telah berani membatasi rahmat-Nya. Lelaki tersebut akhirnya diperintahkan masuk neraka.
Kisah ini menjadi peringatan bahwa Islam bukan hanya tentang rutinitas ibadah, tetapi juga akhlak dan kerendahan hati. Lisan yang tajam bisa membatalkan seluruh amal, sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam banyak hadits.
Wallahu a'lam.
@ffr
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
BACA JUGA
Transnusa Buka Rute Lampung-Kuala Lumpur
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!