Iran Tolak Meja Damai, Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur
Ilustrasi. /visi.news/ai
Ia bahkan mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika tidak ada kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir pekan ini. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa jalur diplomasi kini berjalan beriringan dengan tekanan militer yang sangat tinggi.
Di sisi lain, Washington tetap mengirim tim negosiator ke Islamabad untuk putaran kedua pembicaraan. Delegasi tersebut disebut kembali dipimpin oleh JD Vance bersama beberapa utusan senior Gedung Putih. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Iran bahwa mereka akan hadir dalam pertemuan tersebut.
Pemerintah Iran sendiri memperkeras retorika. Ketua parlemen sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa kesiapan militer tetap menjadi prioritas utama. Menurutnya, jalur diplomasi tidak berarti angkatan bersenjata akan mengendurkan kewaspadaan.
Iran juga mengancam kembali membatasi lalu lintas di Selat Hormuz jika blokade AS tidak dihentikan. Pesan ini memperlihatkan bahwa Teheran masih menjadikan selat tersebut sebagai kartu tawar utama dalam negosiasi.
Selain isu pelayaran, program nuklir kembali menjadi titik benturan besar. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak keras tuntutan Amerika Serikat yang membatasi hak nuklir negaranya. Teheran juga membantah klaim Washington bahwa Iran siap menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Dengan waktu tersisa hanya tiga hari menuju berakhirnya gencatan senjata, situasi kini berada di titik kritis. Jika pembicaraan di Islamabad gagal terlaksana atau kembali buntu, kawasan Timur Tengah berisiko kembali masuk ke fase konflik terbuka dengan dampak global yang jauh lebih luas, terutama terhadap harga energi, jalur perdagangan internasional, dan stabilitas geopolitik dunia.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!