Iran Sendirian Hadapi Tekanan AS, Rusia dan China Pilih Menepi
Selama ini Rusia dan China memang membantu Iran membangun kemampuan militernya, termasuk melalui pasokan rudal, sistem pertahanan udara, dan teknologi militer. Bantuan itu dirancang untuk meningkatkan kemampuan Iran dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Namun dukungan tersebut tampaknya memiliki batas yang jelas.
Situasi ini memunculkan paradoks dalam hubungan ketiganya. Iran tetap dipandang penting bagi Rusia dan China sebagai bagian dari poros penyeimbang terhadap Barat, tetapi tidak cukup penting untuk membuat mereka terlibat dalam perang terbuka.
Bagi Rusia, konflik di Ukraina telah menguras sumber daya militer, diplomatik, dan ekonominya. Presiden Vladimir Putin juga berusaha menjaga hubungan dengan negara-negara Teluk yang kaya minyak.
“Jika Rusia mendukung Iran secara langsung, itu akan mengasingkan negara-negara Teluk dan Israel. Itu bukan yang diinginkan Putin,” kata Borshchevskaya.
Sementara itu, China memiliki pendekatan berbeda dalam membangun aliansi global. Beijing cenderung mengutamakan hubungan berbasis perdagangan dan investasi, bukan perjanjian pertahanan militer seperti yang dimiliki Amerika Serikat.
Menurut analis dari Carnegie Endowment for International Peace, Evan A. Feigenbaum, strategi tersebut membuat China menghindari keterlibatan dalam konflik yang jauh dari kepentingan inti mereka.
Analis dari Washington Institute, Henry Tugendhat, menilai prioritas utama China tetap berada di kawasan Asia Timur.
“Jika Beijing ingin melakukan lebih banyak, mereka tidak akan mengalihkan perhatian strategis atau aset militernya dari kepentingan utama. Yang mereka perhatikan adalah Taiwan, Laut China Selatan, serta ancaman yang mereka rasakan dari AS dan Jepang,” ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!