Indonesia Bersiap Helat Pilkada 2024, Wamenag Ingatkan untuk Tidak Politisasi Rumah Ibadah
VISI.NEWS | JAKARTA - Indonesia akan menghelat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada November 2024 mendatang. Dalam persiapan menuju pesta demokrasi tersebut, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Saiful Rahmat Dasuki, menyampaikan pesan penting terkait politisasi rumah ibadah. "Kami berharap calon-calon kepala daerah tidak melakukan politisasi rumah ibadah ataupun politisasi agama dalam Pilkada, demi mencegah perpecahan di kalangan umat," ujarnya mewakili Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dalam kegiatan Sarasehan Kemasjidan Lokakarya Nasional Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) di Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Sarasehan dan Lokakarya Nasional BKM yang mengangkat tema ‘Menata Regulasi Kemasjidan untuk Masjid Profesional, Moderat, Berdaya’ ini berlangsung selama tiga hari, dari 17 hingga 19 Juli 2024. Acara ini diikuti oleh 400 peserta, yang merupakan perwakilan dari BKM Pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, serta mitra kemasjidan termasuk organisasi masyarakat, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Unicef, Bank Syariah Indonesia (BSI), dan lainnya.
Dalam sambutannya, Wamenag Saiful Rahmat Dasuki mengingatkan kembali tentang pengalaman kontestasi politik sebelumnya, di mana masjid sering menjadi sasaran politisasi. "Hal semacam itu agar tidak terulang. Sebaliknya, Wamenag meminta para calon kepala daerah memasukkan agenda pembinaan kemasjidan dalam rencana program kerja mereka," tambahnya.
Lebih lanjut, Wamenag mengemukakan bahwa masjid seharusnya menjadi tempat yang netral dari kepentingan politik. Ia menekankan pentingnya menjaga fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan yang inklusif dan damai. "Kami juga berharap, calon-calon kepala daerah yang akan berkontestasi di Pilkada 2024 besok, dapat memasukkan agenda pembinaan kemasjidan dalam rencana program kerjanya kelak," pintanya.
Selain itu, Wamenag juga menginstruksikan jajaran BKM dari pusat hingga daerah untuk terlibat aktif dalam berbagai isu kemasjidan. Ia menyoroti pentingnya kegiatan ibadat dan non-ibadat yang berkualitas di masjid, serta tantangan ekstremisme dan politisasi yang kerap menjadi isu laten di lingkungan masjid. "Tantangan ekstremisme ini menjadi PR (pekerjaan rumah) kita. Untuk itu, saya menginstruksikan kepada jajaran BKM pusat hingga daerah untuk hadir dalam berbagai isu kemasjidan," tegasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!