Humaira Zahrotun Noor Ajak Santri Jadi Pelopor Peradaban Dunia
Humaira mengatakan bahwa santri hari ini harus tampil sebagai pelopor perubahan, yang tidak hanya cakap mengaji, tapi juga mampu mengkaji realitas sosial di sekitarnya, tidak hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi juga peka terhadap tantangan zaman yang terus berubah.
"Menjadi santri berarti menjalankan tiga peran utama, thalabul ‘ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihad fi sabilillah. Santri tidak hanya mencari ilmu, tapi juga membersihkan jiwanya dengan akhlak dan adab, serta berjuang di jalan Allah untuk kemaslahatan umat. Santri itu belajar dengan hati, bukan sekadar dengan otak, mereka menuntut ilmu dengan riyadlah, dengan tirakat, dan dengan ketulusan. Karena itulah ilmu para santri menjadi ilmu yang membawa berkah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsanya," paparnya.
Namun di tengah segala kemuliaan itu, kata Humaira, tidak menutup mata terhadap berbagai isu yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang dunia pesantren.
"Sebagai wakil rakyat, saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir jernih dan adil. Jangan biarkan oknum atau peristiwa tertentu menutupi jasa besar pesantren yang telah menjadi benteng moral bangsa selama berabad-abad," ujarnya.
Politisi muda PKB ini mengatakan pesantren adalah tempat lahirnya ulama, pendidik, dan pemimpin yang membentuk karakter bangsa.
"Karena itu, kita harus mendukung upaya pembenahan, transparansi, dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren tanpa menggerus marwah dan tradisi luhur yang telah diwariskan para kiai," ucapnya.
Negara juga harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada pesantren, kata dia, baik dalam bentuk dukungan infrastruktur, peningkatan kualitas tenaga pendidik, maupun penguatan kesejahteraan santri.
"Sebab di tangan santri inilah masa depan bangsa dibentuk, bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan akhlak," ujarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!