Hukum Menerima dan Memakan Takjil Buka Puasa dari Non Muslim
Sebenarnya banyak riwayat yang menceritakan Nabi Muhammad saw menerima hadiah dari non muslim, salah satunya hadits dalam Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:
أَنَّ أُكَيْدِرَ دُومَةَ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَ حَرِيرٍ، فَأَعْطَاهُ عَلِيًّا، فَقَالَ: شَقِّقْهُ خُمُرًا بَيْنَ الْفَوَاطِمِ، وقَالَ أَبُو بَكْرٍ، وَأَبُو كُرَيْبٍ: بَيْنَ النِّسْوَةِ
Artinya, “Ukaidar Dumah telah memberikan hadiah kepada Nabi saw pakaian sutera, lalu oleh beliau diberikan kepada Ali seraya bersabda: “Robeklah untuk dijadikan khimar (kerudung) bagi tiga orang Fatimah (Fatimah binti Rasulullah, Fatimah binti Asad, Fatimah binti Hamzah). Abu Bakar dan Abu Kuraib berkata: "Bagi perempuan-perempuan." (HR. Muslim).
Imam Nawawi pensyarah Shahih Muslim mengomntari hadits di atas sebagai dalil kebolehan menerima hadiah dari non muslim.
في هذا الحديث جواز قبول هدية الكافر
Artinya, "Dengan haditst ini diperbolehkan menerima hadiah dari non muslim." (Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, Syarah Nawawi 'ala Muslim, , juz XV, halaman 51).
Penjelasan di atas memberikan pemahaman kebolehan menerima hadiah atau hibah dari non muslim yang dalam hal ini berupa makanan takjil untuk berbuka puasa.
Keempat, hukum memakan pemberian non muslim
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!