Hukum Bermain Domino atau Remi di Khalayak Umum pada Malam Menjelang Hajatan

ED
Kamis, 26 Desember 2024 | 09:25 WIB
Bagikan
Hukum Bermain Domino atau Remi di Khalayak Umum pada Malam Menjelang Hajatan
Oleh Gus Basir DALAM masyarakat, permainan seperti domino atau remi sering dimainkan dalam berbagai acara sosial, termasuk pada malam menjelang hajatan seperti midangan (acara sebelum pernikahan). Permainan ini sering dilakukan untuk menghibur tuan rumah atau mengisi waktu sambil menunggu acara utama. Namun, banyak yang bertanya tentang hukum Islam terkait permainan ini jika dimainkan di khalayak umum. Apakah permainan tersebut diperbolehkan, atau justru ada hal-hal yang perlu dihindari? Sebelum menjawab pada inti pertanyaan.terlebih dahulu kita memahami objek hukum belajar ushul fiqih menyatakan bahwa objek hukum (محكوم فيه) adalah perbuatan manusia mukallaf, bukan mukallaf itu sendiri, bukan sifat-sifatnya dan bukan benda-benda lainnya. Jadi, babi tidak haram. Yang haram adalah makan babi. Ibu kandung dan ibu mertua tidak haram, yang haram adalah menikahinya. Perbuatan mukallaf tersebut ada dua: Pertama,disebut sebagai“baik” (al-hasan), yaitu perbuatan mukallaf yang diizinkan yang meliputi wajib, mandub, dan mubah (الحسن: فعل المكلف المأذون فيه واجبا ومندوبا ومباجا). Kedua, yang disebut dengan “buruk” (al-qabih), yaitu perbuatan mukallaf yang dilarang (القبيج: فعل المكلف المنهى عنه) seperti haram. Adapun makruh, menurut Al-Imam al-Haramain, berada di antara baik dan buruk. Baginya, makruh tak bisa disebut buruk (al-qabih) karena orang yang melakukan perbuatan makruh tak dicela. Makruh tak bisa juga disebut sesuatu yang baik (al-hasan) karena orang yang melakukan perbuatan makruh itu tak terpuji (ليس المكروه قبيحا لأنه لا يذم عليه ولا حسنا لأنه لا يسوغ الثناء عليه). Kemudian untuk mengetahui kadar sesuatu yang diharamkan, para ulama membaginya menjadi dua bagian. Pertama, haram pada dirinya sendiri (حرام لذاته) karena di dalamnya sudah nyata mengandung mafsadat (لأن فيه مفسدة) seperti memakan daging babi. Kedua, haram li ghairihi, sesuatu yang diharamkan karena faktor eksternal, bukan karena faktor internal misalnya perkara mubah bisa diharamkan jika menimbulkan kemafsadatan (لأنه يؤدى الى مفسدة). Sebagai perbandingan, para ulama fiqih terdahulu pernah membahas mengenai hukum bermain catur dan bermain dadu. Dinyatakan, karena permainan catur mengandalkan kekuatan pikiran sehingga mubah (tidak haram), maka permainan dadu yang mengandung unsur spekulasi, hukumnya haram. Tercantum dalam kitab Hasyiyah al-Jamal, juz 23, halaman 268 sebagai berikut: وفارق النرد الشطرنج حيث يكره إن خلا عن المال بأن معتمده الحساب الدقيق والفكر الصحيح ففيه تصحيح الفكر ونوع من التدبير ومعتمد النرد الحزر والتخمين المؤدي إلى غاية من السفاهة والحمق قال الرافعي ما حاصله ويقاس بهما ما في معناهما من أنواع اللهو وكل ما اعتمد الفكر والحساب كالمنقلة والسيجة وهي حفر أو خطوط ينقل منها وإليها حصى بالحساب لا يحرم ومحلها في المنقلة إن لم يكن حسابها تبعا لما يخرجه الطاب الآتي وإلا حرمت وكل ما معتمده التخمين يحرم. Oleh sebab itu, sebagian ulama membuat syarat dibolehkannya permainan domino atau Remi dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyah al-Fiqihiyyah (35/268-269) adalah: 1. Tidak merendahkan harkat dan martabat manusia (أن لا يكون فيه دناءة يترفّع عنها ذوو المروءات). 2. Tidak berbahaya atau membahayakan (أن لا يتضمّن ضرراً فإن تضمّن ضرراً لإنسان أو حيوانٍ كالتّحريش بين الديوك والكلاب ونطاح الكباش والتّفرج على هذه الأشياء فهذا حرام). 3. Tidak menyebabkan seseorang lalai melaksanakan kewajiban atau tidak menyebabkan seseorang jatuh pada perbuatan haram (أن لا يشغل عن صلاةٍ أو فرضٍ آخر أو عن مهمّاتٍ واجبةٍ فإن شغله عن هذه الأمور وأمثالها حرم). 4. Tidak mengandung kebohongan (أن لا يخرجه إلى الحلف الكاذب ونحوه من المحرّمات). 5. Tidak mengandung unsur judi (عدم الميسر الذى أمر الله باجتنابه). Diilhaqkan atau disamakan dengan bermain catur, maka bermain domino atau Remi yang dilakukan sesuai pertanyaan di atas itu sebenarnya adalah mubah, sesuatu yang diizinkan untuk dikerjakan/permainan. (مأذون فى فعله). Kemudian tentang mubah, para ulama ushul berkata: (والأصح أن المباح غير مأمور به من حيث هو). Lantas, jika permainan domino atau Remi trsebut menyebabkan seseorang lalai mengerjakan hal-hal yang diwajibkan syara’ (ترك الواجبات) atau menyebabkan seseorang jatuh pada perbuatan haram (فعل المنهيات) ada taruhan/judi, ada minuman memabukkan dll, maka bermain domino atau Remi walaupun di khalayak umum terjadi lumrah dalam midangan menjelang hari hajatan, maka haram hukumnya.
  • Gus Basir, Ketua LBM MWC NU Jatitujuh dan Pimpinan Majelis Sabilul Ghofilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.