Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026

Hipertensi, Penyakit Senyap yang Bisa Turun dalam Keluarga

Desi Rossilawati
Sabtu, 31 Mei 2025 | 01:00 WIB
Bagikan
Hipertensi, Penyakit Senyap yang Bisa Turun dalam Keluarga
VISI.NEWS | BANDUNG - Hipertensi atau tekanan darah tinggi sering disebut sebagai 'penyakit senyap' karena banyak penderitanya tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal. Menurut dr. Kristin Tjandara dari klinik Prodia Kramat, faktor genetik menjadi salah satu penyebab hipertensi yang tidak dapat diubah. "Faktor risiko hipertensi ada dua jenis, yaitu yang bisa diubah dan tidak. Nah, faktor genetik atau riwayat hipertensi termasuk dalam faktor risiko hipertensi yang tidak bisa diubah, jika salah satu atau kedua orangtua kita juga hipertensi, kemungkinan besar menurun ke anak-anaknya," jelas dr. Kristin. Penelitian global turut menguatkan peran faktor genetik dalam hipertensi. Studi di Amerika Serikat tahun 2022 melibatkan 3.070 peserta, sementara riset di China yang melibatkan lebih dari 700.000 peserta menunjukkan bahwa komponen genetik memiliki peran signifikan dalam kejadian hipertensi. Meski faktor keturunan tidak bisa diubah, gaya hidup sehat menjadi kunci utama dalam mengendalikan tekanan darah. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dan gula serta kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk kondisi pembuluh darah dan meningkatkan risiko hipertensi. "Jika berlangsung lama, kebiasaan kurang gerak akan mengubah fungsi organ kita, menjadi berat bebannya. Contohnya pada jantung karena kurang gerak peredaran darah menjadi lebih lambat, pompa jantung berat, karena tidak ada bantuan dari otot-otot tubuh, lama kelamaan terjadilah hipertensi," tambah dr. Kristin. Deteksi dini hipertensi bisa dilakukan dengan pengukuran tekanan darah secara rutin. Jika tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg, konsultasi ke dokter sangat dianjurkan. Perubahan gaya hidup seperti pengaturan pola makan, berhenti merokok, dan menurunkan berat badan terbukti efektif menurunkan tekanan darah. Selain itu, obat-obatan yang diresepkan dokter juga dapat membantu mengontrol kondisi ini dengan biaya terjangkau. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.