Hidup-Mati RS di Gaza: Al-Awda Kembali Beroperasi, Solar Cuma Bertahan Dua Hari
“Kami mengetuk semua pintu agar bisa terus memberikan layanan. Namun, sementara pendudukan memberikan bahan bakar untuk lembaga internasional, mereka justru membatasinya untuk fasilitas kesehatan lokal seperti Al-Awda,” ujar Salha kepada AFP.
Kondisi ini mencerminkan krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza, meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, jumlah bantuan yang masuk jauh di bawah kesepakatan awal, dari target 600 truk per hari menjadi hanya sekitar 100 hingga 300 truk.
Situasi tersebut berdampak langsung pada warga sipil. Seorang pengungsi di Nuseirat, Khitam Ayada (30), mengaku tidak mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkan saat mendatangi RS Al-Awda karena keterbatasan listrik.
“Mereka bilang tidak ada listrik untuk melakukan X-ray dan tidak bisa merawat saya,” ujarnya. “Kami kekurangan segalanya dalam hidup, bahkan layanan medis paling dasar.”
Sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling terdampak akibat perang berkepanjangan di Gaza. Organisasi medis internasional Doctors Without Borders kini mengelola sekitar sepertiga dari total 2.300 tempat tidur rumah sakit di wilayah tersebut, sementara seluruh pusat stabilisasi untuk anak-anak dengan malnutrisi parah bergantung pada dukungan lembaga kemanusiaan internasional. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!