Hati-Hati, Kortisol Berlebih Bisa Picu Lemak Perut dan Gangguan Tidur
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 22 Mei 2025 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Kortisol dikenal sebagai hormon utama yang berperan dalam respons stres, metabolisme energi, dan kekebalan tubuh. Namun, ketika kadar kortisol dalam tubuh terlalu tinggi dan berlangsung lama, hal ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental.
Dikutip dari Times of India dan Healthline, berikut sejumlah tanda umum yang bisa menunjukkan kadar kortisol dalam tubuh berlebihan:
1. Lemak Menumpuk di Perut dan Wajah
Salah satu gejala paling mencolok adalah penambahan berat badan di bagian tengah tubuh dan wajah, meski lengan serta kaki tetap terlihat ramping.2. Wajah Bengkak dan Membulat
Retensi cairan akibat kortisol tinggi membuat wajah terlihat lebih bundar, terutama dengan pembengkakan di sekitar mata.3. Jerawat dan Masalah Kulit
Kelebihan kortisol dapat merangsang produksi minyak berlebih, menyumbat pori-pori, dan menyebabkan jerawat. Kulit pun cenderung lebih tipis, mudah memar, dan muncul pigmentasi gelap di area tertentu seperti leher atau ketiak.4. Rambut Rontok
Hormon stres ini juga berdampak pada siklus pertumbuhan rambut, terutama di area puncak kepala, sehingga rambut rontok makin parah.5. Kelelahan dan Lemah Otot
Kortisol yang terlalu tinggi dapat menguraikan massa otot, menimbulkan kelelahan kronis bahkan saat tubuh cukup istirahat.6. Gangguan Tidur dan Fokus
Saat hormon kortisol tetap tinggi di malam hari, tidur menjadi tidak nyenyak dan konsentrasi terganggu. Dalam jangka panjang, bisa memengaruhi fungsi kognitif.7. Sakit Kepala dan Mood Swing
Kortisol turut meningkatkan tekanan darah yang bisa memicu sakit kepala. Selain itu, gejala emosional seperti mudah marah, cemas, hingga depresi juga bisa muncul.8. Daya Tahan Tubuh Menurun
Terlalu banyak kortisol melemahkan sistem imun, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan memperlambat penyembuhan luka. Keseimbangan kortisol sangat penting bagi kesehatan. Jika mengalami beberapa gejala di atas secara terus-menerus, konsultasi ke dokter menjadi langkah yang bijak untuk memulihkan keseimbangan hormon dan mencegah komplikasi lebih lanjut. @ffrBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!