H Usep Mulyana, Buruh Pabrik yang Berhasil Menguliahkan Dua Anaknya di Kedokteran
Mereka bekerja sama. Pun demikian anaknya semangat belajar, sehingga saat SMP bisa masuk kelas akselerasi di Baleendah. "Lulus SMP saya dan istri berfikir keras, ke SMA mana supaya lulusannya mudah diterima di kedokteran," ujar Usep.
Akhirnya mereka sepakat menyekolahkan si sulung ini di Kota Bandung, di SMA Darul Hikam, Jalan Ir. H. Djuanda (Dago). "Abdi mah aktif mantau teras murangkalih ka sakola. Murangkalih dilebetkeun ka SSC, sareng ka GO. Alhamdulillah, rangkingnya naik terus, sampai jadi rangking pertama," ungkapnya seraya menyebutkan nilainya hampir semuanya 10.
Awalnya, kata Usep, anaknya di arahkan untuk fokus ke Unpad, karena penjelasan dari pihak sekolah rangking 3-5 bisa masuk ke Unpad. "Ternyata, anak saya tidak lolos ke Unpad. Maka langsung saya telepon ke gurunya, kebetulan sedang berada di Amerika. Akhirnya, janjian setelah sampai di Indonesia akan membahas soal anak saya ini," ungkapnya.
Setelah berusaha kedua kalinya melalui jalur mandiri ternyata gagal juga akhirnya diterima di Unisba. Di kampus ini anaknya aktif di berbagai organisasi kampus bahkan pernah duduk di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). "Setelah saya jelaskan resiko-resiko terlalu aktif di organisasi, akhirnya anak saya faham, dan kembali fokus menyelesaikan kuliah secepatnya," ungkap Usep.
Tak Diduga, Adiknya Juga Mau Jadi Dokter
Ia dan istrinya merasa plong meski tabungannya ludes untuk menguliahkan si sulung ke kedokteran karena sudah bisa memetik hasilnya. Anaknya itu diterima di RSUD Ciamis. "Sempet sedikit beda keinginan setelah anak saya jadi dokter. Saya ingin dia kerjanya di rumah sakit yang ada di sini, di Kabupaten Bandung, sedangkan anak saya mencari di luar daerah. Tapi, ia sekarang mulai terasa ingin kerja di sini, di RSUD yang ada di Kabupaten Bandung," ungkapnya.
Belum lama "istirahat" setelah menguras tabungan dan tenaga, ia kaget ketika adiknya, Siti Zalfaa Zhafirah putrinya yang nomor dua, juga ingin jadi dokter. "Duh, saya dan istri puyeng karena tidak ada persiapan. Uang sudah habis, sementara kalau daftar ke kedokteran saat itu harus ada uang Rp. 70 juta," ungkapnya seraya menyebutkan, kalau pun daftar dan diterima hanya ada sisa waktu tiga bulan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!