Gus Yahya Serukan Kesetiaan Santri kepada Pesantren, NU, dan Indonesia di Lirboyo
Ia menegaskan bahwa seluruh ajaran yang diwariskan para masyayikh dan kiai NU adalah ajaran Islam yang lurus dan otentik, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad saw tanpa penyimpangan. “Kita tidak akan pernah berkecil hati. Apa pun yang dikatakan orang, kita tidak akan kendor. Karena Allah swt telah menjanjikan, walaupun ada yang tidak suka kepada pesantren dan NU, nilai-nilai agama yang diajarkan para ulama akan tetap hidup di tengah dunia,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga mengingatkan agar para santri tetap menjaga akhlak dan keteladanan di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman. Ia menilai bahwa semangat kesantrian bukan sekadar tentang belajar agama, tetapi juga menjaga karakter luhur dan kebangsaan yang menjadi warisan para pendiri NU.
“Kita semua sudah memilih menjadi santri. Apa pun yang dikatakan orang untuk menjelek-jelekkan santri, merendahkan pesantren, menghina kiai, selama-lamanya kita tetap santri,” ujar Gus Yahya disambut gema takbir dan shalawat. Menurutnya, status santri bukan hanya gelar, tetapi identitas moral dan spiritual yang menjamin kemuliaan masa depan bangsa.
Gus Yahya menutup pidatonya dengan seruan agar seluruh santri tetap berpegang pada ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin dan menjaga kesetiaan terhadap NU serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Santri adalah jaminan kemuliaan masa depan bagi negara Indonesia,” tandasnya, menegaskan peran strategis santri sebagai penjaga moralitas, keilmuan, dan keutuhan bangsa.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!