Gus Yahya Serukan Kesetiaan Santri kepada Pesantren, NU, dan Indonesia di Lirboyo
VISI.NEWS | KEDIRI - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyerukan semangat dan kesetiaan kepada pesantren, Nahdlatul Ulama (NU), dan Indonesia di hadapan ribuan santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Senin (20/10/2025). Kehadirannya dalam acara Lirboyo Bersholawat yang digelar untuk mensyukuri momentum Hari Santri 2025 menjadi momen penuh makna bagi warga pesantren dan jamaah yang memadati area pesantren tertua di Kediri itu.
Dalam suasana religius dan penuh semangat, kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu membuka sambutannya dengan seruan lantang yang menggugah semangat ribuan santri. “Santri?” serunya, dijawab kompak oleh para santri dengan teriakan, “Iya!”. Ia kemudian melanjutkan dengan serangkaian ajakan penuh semangat: “Siap bela Lirboyo?”, “Siap bela pesantren?”, “Siap bela NU?”, dan “Siap bela Indonesia?”, yang semuanya dijawab serentak dengan pekikan “Siap!”. “Alhamdulillah, jawabannya siap semua. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan,” ujar Gus Yahya disambut sorak gembira ribuan jamaah.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menegaskan kembali pesan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yang menyatakan bahwa para ulama NU adalah pewaris sah ilmu agama Islam karena memiliki sanad keilmuan yang muttasil—bersambung hingga Rasulullah saw. “Para ulama NU memiliki otoritas dalam mengajarkan agama karena ilmu mereka diperoleh dari jalur keilmuan yang sah dan bersambung,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip nasihat Hadratussyekh yang menyebut para ulama sebagai “gudang-gudangnya ilmu” dan “pintu-pintunya ilmu”. Gus Yahya mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas dalam menuntut ilmu agama. “Barang siapa masuk rumah tidak dari pintunya, dari jendela, dari genteng, atau membobol dinding, dia dinamai maling,” ujarnya, disambut tawa dan tepuk tangan para santri.
Dari pesan itu, Gus Yahya mengajak para santri untuk memahami pentingnya menuntut ilmu agama dari sumber yang benar dan berotoritas. “Kita memilih menjadi santri karena kita ingin menjalankan agama tidak seperti maling. Kita ingin memasuki agama dari pintu-pintunya. Ilmu dan agama yang kita pelajari ini adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw,” katanya penuh penekanan.
Ia menegaskan bahwa seluruh ajaran yang diwariskan para masyayikh dan kiai NU adalah ajaran Islam yang lurus dan otentik, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad saw tanpa penyimpangan. “Kita tidak akan pernah berkecil hati. Apa pun yang dikatakan orang, kita tidak akan kendor. Karena Allah swt telah menjanjikan, walaupun ada yang tidak suka kepada pesantren dan NU, nilai-nilai agama yang diajarkan para ulama akan tetap hidup di tengah dunia,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga mengingatkan agar para santri tetap menjaga akhlak dan keteladanan di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman. Ia menilai bahwa semangat kesantrian bukan sekadar tentang belajar agama, tetapi juga menjaga karakter luhur dan kebangsaan yang menjadi warisan para pendiri NU.
“Kita semua sudah memilih menjadi santri. Apa pun yang dikatakan orang untuk menjelek-jelekkan santri, merendahkan pesantren, menghina kiai, selama-lamanya kita tetap santri,” ujar Gus Yahya disambut gema takbir dan shalawat. Menurutnya, status santri bukan hanya gelar, tetapi identitas moral dan spiritual yang menjamin kemuliaan masa depan bangsa.
Gus Yahya menutup pidatonya dengan seruan agar seluruh santri tetap berpegang pada ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin dan menjaga kesetiaan terhadap NU serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Santri adalah jaminan kemuliaan masa depan bagi negara Indonesia,” tandasnya, menegaskan peran strategis santri sebagai penjaga moralitas, keilmuan, dan keutuhan bangsa.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!