IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Guru ASN Jabar Terbebani Kewajiban Upload Aplikasi Tugas Utama Mendidik

ED
Minggu, 13 November 2022 | 04:33 WIB
Bagikan
Guru ASN Jabar Terbebani Kewajiban Upload Aplikasi Tugas Utama Mendidik

Oleh Dwi Soebawanto

BERDASARKAN diskusi informal dengan beberapa guru yang pembinaannya berada di Pemerintah Provinsi Jabar, sekarang ini para guru merasa terbebani adanya aplikasi yanh setiap hari harus dikerjakan/dilaporkan. Oleh karenanya kami dari Fortusis memohon kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat jangan terlalu membebankan mengerjakan upload aplikasi kepada Guru PNS SMA, SMK dan SLB yang sebagian besar sudah mendekati masa pensiun dan diantaranya gagap teknologi.

Demikian kami sampaikan agar para guru tetap mengutamakan mendidik agar kualitas pendidikan di Jabar tetap prima.

Adapun beberapa kewajiban mengerjakan aplikasi yang dianggap memberatkan antara lain:

  1. Pengisian input aktivitas harian harus mencapai 450 menit melalui aplikasi TRK (Tunjangan Remunerasi Kinerja).
  2. Pengisian lapor IKI (indikator kinerja Individu) : mingguan di upload ke Youtube.
  3. Pengisian review 360 GTK bulanan.
  4. Pengisian Kuesioner Kinerja GTK bulanan menilai teman sejawat dengan rentang 3 angka yang sering meninmbukan konflik antar sesama guru.
  5. Pengisian mingguan oleh siswa dan komite sekolah.
  6. Pengisian kuesioner non-rutin di bulanan diisi adalah Kuesioner Minat Karir GTK pada periode pengisian mingguan.
  7. Untuk nilai kinerja GTK diwajibkan presensi kehadiran dari KMOB harian , jika tidak mengisi atau lupa mengurahi nilai kinerja.
  8. Keharusan update aplikasi SIAP Jabar.

Kewajiban-kewajiban mengerjakan aplikasi tersebut untuk memenuhi pembayaran TPP (tambahan Pehasilan Pegawai) untuk guru PNS sebesar 1.750.000 (satu juta tujuh ratus lima puluh ribu ) rupiah per bulan , berbeda dengan Provinsi Banten beban kerja guru PNS hanya mengisi sekala sikap harian pada sistem informasi kinerja minimal 300 menit sehari dan Absen kehadiran melalui faceprint untuk mendapatkan TPP 3.000.000 (tiga Juta) rupiah perbulan.

Dampak dari kesibukan mengisi aplikasi harian, mingguan dan bulanan tersebut maka:

  1. Mengganggu waktu efektif guru
  2. Mengganggu jam ngajar krena apa apa harus fotoin dulu kesiswa, tidak natural
  3. Guru tidak fokus mendidik karena disibukkan dengan aplikasi
  4. Tidak ada korelasi dengan upaya peningkatan prestasi siswa
  5. Waktu libur sabtu dan minggu untuk berekreasi dengan keluarga jadi tidak bisa dilaksanakan karena waktu libur habis untuk mengerjakan dan upload aplikasi mingguan baik ke TRK maupun ke Youtube

Ironisnya ada kompetisi keberhasilan mengisi aplikasi-aplikasi tersebut antar Kantor Cabang Dinas (KCD) sehingga para pejabat KCD menekan para kepala sekolah dan kepala sekolah menekan para guru untuk melakukan tugas mengerjakan aplikasi-aplikasi tersebut. Sesuai dengan aturan sebenarnya pimpinan tidak boleh melakukan sewenang-wenang kepada bawahannya yang berdampak menggangu kinerja dan keharmonisan keluarga bawahanya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.