Guncangan Baru di Eropa: Skandal Suap Paksa NATO Jeda Kerja Sama dengan Elbit Systems

ED
Rabu, 10 Desember 2025 | 10:04 WIB
Bagikan
Guncangan Baru di Eropa: Skandal Suap Paksa NATO Jeda Kerja Sama dengan Elbit Systems

VISI.NEWS | BANDUNG - NATO kembali menjadi pusat perhatian internasional setelah memutuskan menghentikan sementara seluruh kontrak dengan Elbit Systems, perusahaan senjata terbesar Israel. Keputusan ini muncul di tengah penyelidikan korupsi yang menyeret jaringan pengadaan militer Eropa dan mengungkap potensi penyimpangan besar dalam proses tender pertahanan.

Laporan The National menyebutkan bahwa kasus ini berawal dari dugaan praktik suap yang melibatkan Eliau Eluasvili, seorang konsultan Italia berusia 60 tahun yang dikaitkan dengan Elbit. Eluasvili diduga menyuap mantan pegawai Badan Dukungan dan Pengadaan NATO (NSPA) untuk memuluskan sejumlah kontrak bernilai tinggi. Ia kini menjadi buronan Eropa setelah Belgia menerbitkan surat penangkapan terhadapnya pada September lalu.

Penyelidikan yang masih berlangsung di Belgia dan Luksemburg memunculkan kekhawatiran lebih luas: adanya praktik pembayaran jutaan euro dari perusahaan-perusahaan pertahanan kepada pejabat pengadaan demi memperoleh proyek NATO. Situasi ini menjadi sensitif karena sejak invasi Rusia ke Ukraina, anggaran belanja militer negara-negara NATO meningkat drastis mendekati tiga kali lipat dibanding 2021.

Penundaan kontrak terhadap Elbit disampaikan melalui surat internal yang ditandatangani seorang pejabat senior NSPA. Surat tersebut, sebagaimana dikutip Turkiye Today, menegaskan bahwa langkah ini diambil karena muncul dugaan kuat mengenai adanya praktik kontraktual yang menyimpang.


“Tuduhan serius ini menimbulkan potensi keterlibatan pemasok dalam tindakan yang dapat dikenai sanksi, sehingga kami menghentikan kerja sama sementara waktu,” tulis pejabat tersebut.

Elbit, yang selama satu dekade terakhir menjual amunisi senilai sekitar €50 juta kepada negara-negara anggota NATO, ikut merespons penangguhan itu.


“Perusahaan menjalankan program kepatuhan yang komprehensif dan beroperasi sepenuhnya sesuai standar industri,” tegas juru bicara Elbit dalam keterangannya.

Skandal ini berpotensi mengganggu rantai pasok senjata di beberapa negara Eropa. Pasokan yang tertunda mencakup amunisi howitzer berbasis truk, sistem artileri roket bergerak, hingga perlengkapan perlindungan pesawat dan helikopter militer. Di tengah meningkatnya ketegangan global, jeda kontrak ini menambah tekanan pada negara-negara NATO yang sedang memperkuat kesiapan pertahanannya.

Elbit yang bermarkas di Haifa dan membukukan omzet hampir US$7 miliar pada 2024 dikenal memproduksi beragam sistem persenjataan, mulai dari drone hingga tank dan amunisi berat. Data SIPRI menempatkan perusahaan ini pada peringkat ke-25 dalam daftar 100 perusahaan pertahanan terbesar dunia.

Dengan penyelidikan yang masih berjalan dan implikasi geopolitik yang terus berkembang, keputusan NATO ini menjadi sinyal tegas bahwa integritas dalam rantai pengadaan pertahanan kini berada di bawah sorotan paling tajam. @kanaya

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.