Gelombang Tinggi Dibalik Misteri Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda
VISI.NEWS — Hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal yang sedang menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Salah satu fakta penting yang kini menjadi perhatian adalah kondisi laut di Selat Sunda bagian selatan yang sedang dilanda gelombang tinggi ketika rombongan berangkat pada Senin, 7 September 2026.
Prakirawan BMKG Maritim Lampung, Putu Ray, mengungkapkan tinggi gelombang di kawasan tersebut pada periode kejadian berada pada kisaran 2,5 hingga 4 meter. Kondisi itu masuk kategori gelombang tinggi dan telah menjadi perhatian BMKG sebelum rombongan berangkat.
Menurut Ray, peringatan dini mengenai kondisi laut tersebut telah disampaikan BMKG sehari sebelum rombongan dilaporkan hilang kontak.
“Pada saat kejadian tersebut kami sudah memberitahukan peringatan dini bahwa di daerah Selat Sunda bagian selatan termasuk kategori tinggi, dimulai dari 2,5 hingga 4 meter,” kata Ray.
Data tersebut menjadi salah satu elemen penting dalam merekonstruksi perjalanan speedboat Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Namun, gelombang tinggi belum dapat disimpulkan sebagai penyebab kapal hilang. Sampai pencarian terus berlangsung, tidak ada keterangan resmi yang memastikan apakah kapal mengalami kecelakaan akibat gelombang, masalah teknis, perubahan cuaca, atau faktor lain.
Yang dapat dipastikan, rombongan berada di kawasan perairan yang memiliki kondisi laut cukup berisiko pada saat keberangkatan.
BMKG mencatat kondisi gelombang tinggi berlangsung sejak 6 hingga 9 September 2026. Artinya, pada hari keberangkatan, 7 September, kondisi laut memang berada dalam periode yang telah diperingatkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!