Gelombang Panas Tewaskan 2.025 Orang di Prancis dalam Sepekan
Ilustrasi./visi.news/daily.
Sejumlah pihak, termasuk politisi, mengkritik respons pemerintah terhadap dampak gelombang panas tersebut. Partai Hijau bahkan mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Sébastien Lecornu pada 2 Juli 2026.
Direktur jenderal sistem rumah sakit umum Paris, Nicolas Revel, memperkirakan jumlah korban jiwa akibat gelombang panas kali ini masih akan lebih rendah dibandingkan tahun 2003, namun berpotensi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 5.700 kematian.
Dampak gelombang panas juga terlihat pada sektor kesehatan. Rumah Sakit Paris-Saclay mulai menerima lonjakan pasien sejak 20 Juni 2026, dengan kasus mulai dari serangan jantung, dehidrasi, hingga gangguan fungsi ginjal.
“(Pasiennya) mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia yang tinggal sendirian,” ujar kepala departemen gawat darurat Rumah Sakit Paris-Saclay, Nicolas Gonzales, dikutip dari Associated Press.
Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan kematian di rumah pribadi meningkat 91 persen, diikuti peningkatan 37 persen di panti jompo dan hampir 20 persen di rumah sakit.
Di Paris, layanan pemakaman juga dilaporkan kewalahan akibat tingginya jumlah jenazah. Beberapa fasilitas penyimpanan jenazah bahkan mencapai kapasitas penuh.
Gelombang panas ekstrem ini juga berdampak luas di sejumlah negara Eropa lain, termasuk Denmark, Swiss, dan Jerman, yang mengalami gangguan infrastruktur serta transportasi.
Di Swiss, suhu mencapai rekor 38,8 derajat Celsius di Basel, sementara Jerman mencatat suhu tertinggi 41,5 derajat Celsius di Saxony-Anhalt. Panas ekstrem juga menyebabkan kerusakan jalan raya dan gangguan operasional transportasi di beberapa wilayah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!