Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Gedung Putih Bantah Kebocoran Data Grup Signal Pejabat AS

Desi Rossilawati
Kamis, 27 Maret 2025 | 21:15 WIB
Bagikan
Gedung Putih Bantah Kebocoran Data Grup Signal Pejabat AS
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) tengah diguncang skandal keamanan setelah data dari grup obrolan Signal yang berisi pejabat tinggi pemerintahan Donald Trump dilaporkan bocor. Kebocoran ini menimbulkan kekhawatiran besar terkait keamanan komunikasi dalam lingkungan intelijen dan pemerintahan. Berdasarkan laporan yang beredar, grup Signal tersebut digunakan oleh pejabat keamanan nasional AS untuk berdiskusi mengenai operasi militer, termasuk rencana serangan ke Yaman. Namun, informasi dalam grup itu ternyata dapat diakses oleh pihak yang tidak berwenang. Majalah The Atlantic mengungkap bahwa seorang editor mereka secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam grup tersebut, yang memberinya akses ke percakapan rahasia tentang serangan terhadap pemberontak Houthi di Yaman. Dalam sidang Kongres, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard bersama pejabat intelijen lainnya membela penggunaan aplikasi Signal dalam komunikasi mereka. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa tidak ada informasi sensitif yang dibagikan dalam percakapan tersebut. Namun, dua sumber membantah klaim tersebut. Seorang pejabat pertahanan AS dan sumber lain yang mendapat pengarahan setelahnya mengungkapkan bahwa informasi yang dibahas dalam grup itu sangatlah rahasia, terutama karena operasi militer tersebut bahkan belum dilakukan saat itu. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut insiden ini sebagai kesalahan besar. Ia menegaskan bahwa seseorang telah keliru menambahkan seorang jurnalis ke dalam grup yang seharusnya bersifat rahasia. Rubio juga memprediksi bahwa akan ada reformasi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Di sisi lain, Gedung Putih menyebut laporan ini sebagai 'berita palsu.' Sementara itu, beberapa pejabat intelijen mengakui bahwa penggunaan aplikasi pihak ketiga seperti Signal untuk komunikasi resmi memang memiliki risiko keamanan. Saat ini, penyelidikan internal sedang berlangsung untuk mengungkap sejauh mana kebocoran ini memengaruhi keamanan nasional AS. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.