Gagal Nyalon

ED
Rabu, 11 Oktober 2023 | 05:22 WIB
Bagikan
Gagal Nyalon

Oleh Aep S Abdullah

HABIS sudah apa yang dimiliki Mang Pe'i. Ya hartanya, ya harga dirinya. Juga seluruh pendukungnya yang selalu menjanjikan kemenangan padanya untuk kembali berkuasa dalam pemilihan kepala desa (pilkades). Mereka semua tiba-tiba menghilang, raib seperti bayang-bayang.

Kekalahannya dalam pilkades tahun ini tinggal menyisakan puing-puing kebanggaan. Rasa percaya dirinya sebagai calon kepala desa yang merasa paling diunggulkan, tinggal kedongkolan.

Mang Pe'i terpekur. Harta dan kekuasaan ternyata tidak menjaminnya lolos sebagai kepala desa. Para pendukung yang menjanjikan kemenangan, ternyata hanya bualan besar, yang telah memenjarakan dirinya dalam rasa percaya diri yang berlebihan. Ia lengah oleh kepongahan. Hingga selesai perhitungan suara, ia baru sadar kekuatan dan dukungan yang dihembuskan padanya seperti balon besar yang kemudian pecah. Memecahkan jantungnya.

Mang Pe'i sendiri sebetulnya sudah berpikir bagaimana kalau di tengah gegap gempita dukungan ini ia kalah. Hati kecilnya sudah meniatkan dengan sepenuh hati kalau kalah maka ia harus siap. Namun kekalahan ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, sangat menyakitkan. Terlebih, sang pemenang Mang Adun adalah orang yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi seterunya. Bukan mustahil, sang pemenang sebagai penguasa baru, akan berbalik menggunakan kekuasaan untuk mengamputasi semua kekuasaan yang dimilikinya, dan membuatnya menjadi lebih terhina. "Audzubillahimindzalik," desah Mang Pe'i.

Mang Pe'i terus berpikir agar tidak sampai jatuh ke lubang paling dalam pada karir politik lokal di desanya. Ia mulai berpikir, bagaimana agar sisa hartanya pun bisa tumbuh lagi.

Ia memang memiliki beberapa perusahaan kecil dan menengah, tapi setelah tak berkuasa, mungkin berbagai masalah akan muncul. Bahkan, lawan-lawan politiknya bisa saja mengadukannya ke polisi, kejaksaan atau mungkin ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menelusuri bagaimana aliran dana yang dimilikinya selama ia berkuasa. Aparat penegak hukum (APH) yang dulu saat ia berkuasa, bisa kompromis apakah masih bisa bersikap manis. Saat hartanya sudah tidak dapat lagi menolongnya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.