Endang Berlin, Penjaga Irama dan Ruh Kendang Wayang Golek Wafat
Gagasan tersebut kemudian dirumuskan secara konseptual dalam sajian bertajuk "Kendang Ngawirahma Wayang (Penyajian Kendang Wayang Golek)". Judul ini tidak sekadar penamaan, tetapi cerminan pemahaman filosofis terhadap peran kendang dalam karawitan fungsional. Kendang diposisikan sebagai instrumen yang mengisi irama dan kebutuhan gerak wayang, bukan berdiri sendiri sebagai pertunjukan teknik semata.
Secara makna, istilah Ngawirahma dalam kosakata Sunda berarti memberikan irama. Dengan demikian, Kendang Ngawirahma Wayang dimaknai sebagai kendang yang menghidupkan irama, mengarahkan emosi, dan mempertegas dramaturgi wayang, dengan fokus pada pola tepak kendang Wayang Golek gaya Endang Berlin yang berakar dari inovasi Ugan Rahayu.
Dalam penyajiannya, kendang Wayang Golek tidak hanya menuntut keterampilan teknis dan pemahaman pola, tetapi juga kepekaan artistik serta keberanian menghadirkan ide-ide baru. Endang Berlin dikenal mampu menjaga keseimbangan antara pakem dan kreativitas, menjadikan kendang tetap fungsional namun tidak kehilangan daya hidupnya.
Proses latihan dan penyajian tentu tidak lepas dari berbagai hambatan. Kesulitan menghafal pola tepak kendang yang kompleks, keterbatasan jadwal bimbingan latihan gabungan, keluasan materi yang harus dikuasai, hingga tantangan menjaga keselarasan antarbagian gending serta transisi lagu, menjadi dinamika yang harus dihadapi. Namun semua itu justru membentuk ketangguhan artistik dan kedewasaan musikal.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pola kendang Ugan Rahayu—yang diteruskan Endang Berlin—dengan pola kendang klasik sebelumnya. Kendangan ini terbukti mampu membangkitkan semangat pertunjukan Wayang Golek dan menghidupkan kembali minat penonton.
Meski demikian, penelitian tersebut juga mencatat dampak negatif yang patut menjadi perhatian. Banyak pemain kendang muda lebih tertarik mempelajari pola kendang modern, sementara pola kendang klasik semakin jarang dipelajari, sehingga dikhawatirkan perlahan menghilang dari praktik Wayang Golek. Tantangan generasi kini adalah menjaga keberlanjutan tradisi tanpa mematikan kreativitas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!