Emma Dety Ajak Masyarakat Lakukan Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks
Disebutkan Emma Dety, tingginya kejadian kanker serviks disebabkan kurangnya pencegahan pada wanita usia subur dan kurangnya minat deteksi dini.
"Karena deteksi dini kanker serviks masih tabu di masyarakat. Akibatnya, kanker serviks baru terdeteksi pada stadium lanjut, karena ini sering disebut silent killer," ungkapnya.
Ia mengatakan kanker serviks menempati peringkat terbanyak kedua dalam kasus pada wanita. "Yang mana ada dua pilar pencegahan kanker serviks, yaitu pencegahan secara primer dengan adanya imunisasi vaksin HPV dan juga dengan pencegahan sekunder dengan deteksi dini kanker serviks," tuturnya.
Kata Emma Dety, banyaknya kasus kanker serviks di Indonesia semakin diperparah disebabkan lebih dari 75 persen kasus yang datang ke rumah sakit berada pada stadium lanjut.
"Penyebab utama diduga adanya infeksi oleh HPV serta keterlambatan diagnosa pada stadium lanjut. Status ekonomi yang rendah dan keterbatasan sumber daya alam," katanya.
Pada saat yang sama, imbuh dia, kanker serviks mulai menurun di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan kesadaran dalam melakukan deteksi dini seperti pap smear. Sehingga jika mengetahui adanya kanker bisa menentukan pilihan pengobatan yang tepat sehingga bisa mengurangi angka kematian.
"Strategi penanggulangan kanker dilaksanakan dengan pendekatan 4 pilar yaitu promosi kesehatan, deteksi dini, perlindungan spesifik dan tatalaksana sesuai standar," katanya.
Emma Dety mengatakan hampir 30-50 persen kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor resiko dan menjalankan perilaku hidup cerdik. Artinya, melaksanakan cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktifitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup dan kelola stres.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!