Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026

Ekologi Spiritual: Merawat Jagat, Mereformasi Bumi

ED
Jumat, 2 Juni 2023 | 08:25 WIB
Bagikan
Ekologi Spiritual: Merawat Jagat, Mereformasi Bumi

VISI.NEWS | BANDUNG - Dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 5 Juni, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dengan tema “Ekologi Spiritual: Upaya Merawat Jagat, Membangun Peradaban” tanggal 2-4 Juni 2023 di Pesantren Al Hamidiyah, Depok Jawa Barat.

Forum ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut arahan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PB NU) KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari kegiatan Religion Twenty (R20) yang diselenggarakan November lalu di Nusa Dua, Bali. Hal ini semakin menggarisbawahi keterlibatan Indonesia sebagai aktor utama dalam mengurai persoalan krisis lingkungan dan perubahan iklim di tingkat global.

Krisis lingkungan dan perubahan iklim menjadi isu utama dunia dalam kurun satu dekade terakhir. Hingga saat ini bumi terus-menerus memanas. Perjanjian Paris yang disetujui oleh 196 negara anggota PBB bersepakat memperlambat laju pemanasan global di bawah 1,5-2 derajat Celcius tak mampu terealisasikan. Dan nampaknya, kita belum mencapai formula atau solusi dalam menghangatkan kembali bumi yang sedang demam berkepanjangan.

Banyak orang tidak menyadari bahwa meningkatnya suhu panas berdampak serius pada lingkungan. Faktanya, para ilmuwan telah menegaskan bahwa dampak kenaikan panas dapat membawa bencana alam, mencairnya es di Kutub, naiknya permukaan laut yang berakibat banjir di pesisir, munculnya gelombang panas, hingga hilangnya berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Semua masalah ini tidak lagi bersifat futuristis, tapi sudah benar-benar terjadi dan dihadapi oleh seluruh masyarakat dunia, tanpa terkecuali.

Di Indonesia, kita telah merasakan suhu panas di atas batas normal, banjir dan permukaan laut di daerah-daerah pesisir telah menutup rumah-rumah warga. Berita gagal panen telah terjadi di mana-mana sebab cuaca yang tidak lagi dapat diprediksi. Fenomena ini juga berdampak pada perekonomian dan kesehatan individu. Ketidakstabilan ekonomi dan kesehatan mempengaruhi kualitas hidup manusia. Pada akhirnya kerusakan alam adalah awal dari kehancuran tatanan sosial dan budaya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.