Ekologi Spiritual: Merawat Jagat, Mereformasi Bumi
Pertemuan Forum R20 atau G20 Religion Forum yang diprakarsai Ketum PBNU Gus Yahya tersebut menjadi konferensi pertama yang mengkonsolidasikan pemimpin-pemimpin agama di tingkat dunia, di mana Indonesia sebagai tuan rumah (2-3/11/2023). Komunike yang dirumuskan dalam R20 menegaskan bahwa ekologi spiritual bagi umat beragama sebagai solusi dalam menjaga lingkungan dan kelangsungan hidup bumi. Kesepakatan ini secara praktis, mendorong terealisasinya kebijakan pemerintah di seluruh dunia untuk mengembangkan dan membiayai proyek infrastruktur rendah karbon dan tahan iklim di bidang energi terbarukan, penerangan hemat energi, dan optimalisasi limbah.
Indonesia sendiri telah menunjukkan komitmennya dalam menurunkan emisi dengan meningkatkan target Nationally Determined Contribution (NDC). Dalam dokumen NDC terbarunya, Indonesia meningkatkan target untuk menurunkan emisi dari 29 persen menjadi 31,89 persen dengan upaya sendiri dan dari 41 persen menjadi 43,20 persen dengan dukungan internasional.
Reformasi Bumi Cendekiawan Muslim almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah memunculkan sebuah konsep tentang ekologi dan keterkaitannya dengan spritualitas (Islam). Berpijak dari penegasan Al-Quran tentang “larangan berbuat kerusakan di bumi” (QS. 7: 56), Cak Nur menyebut konsep ekologi spiritual dengan “reformasi bumi.”
Bagi Cak Nur, reformasi bumi dapat bermakna ganda. Pertama, larangan merusak alam yang diciptakan Tuhan, sejak awal penciptaan bumi. Ini berarti menjadi tugas manusia untuk memelihara bumi, memelihara lingkungan dan alam. Kedua, larangan merusak bumi setelah terjadi perbaikan oleh manusia. Dengan kata lain, bentuk pemeliharaan alam semesta harus transformatif dan sesuai dengan prinsip-prinsip keseimbangan hukum alam.
Tugas reformasi aktif manusia untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang baik dan membawa kebaikan. Lebih dari yang pertama, pemanfaatan alam melalui teknologi harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan, dilakukan secara berdaya, tidak merusak alam, dan yang terpenting manusia mampu menjaga kesadarannya untuk tidak serakah dalam memenuhi nafsu dan keinginannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!