Efek RI Jadi Anggota FATF ke Industri Kripto hingga Tren Kenaikan Bitcoin
HIGHLIGHTS
- Indonesia Resmi Jadi Anggota FATF, Apa Efeknya ke Industri Kripto?
- Bitcoin Tetap Bertahan di Level US$ 35.000, Tren Kenaikan Tetap Kuat.
VISI.NEWS | BANDUNG - Indonesia telah resmi menjadi anggota penuh Financial Action Task Force (FATF) ke-40 dalam keputusan yang diambil pada 27 Oktober 2023 lalu di Paris, Prancis. Keanggotan Indonesia ini akan membawa dampak ke industri aset kripto di Tanah Air.
Di sisi lain, pasar kripto dan Bitcoin (BTC) masih dalam tren kenaikan yang terjadi sejak bulan Oktober 2023 lalu. Namun dalam perkembangannya, tren tersebut dikabarkan akan melambat. Apa benar?
Untuk mengetahui lebih detail mengenai topik-topik tersebut, berikut news flash lengkap semoga informasi ini bisa bermanfaat.
1. Indonesia Resmi Jadi Anggota FATF, Apa Efeknya ke Industri Kripto?
Indonesia resmi menjadi anggota tetap ke-40 Financial Action Task Force (FATF), sebuah forum internasional yang berperan aktif dalam memerangi tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Presiden RI, Joko Widodo menuturkan bahwa keanggotaan tersebut penting untuk meningkatkan persepsi positif terhadap sistem keuangan Indonesia. “Kita harapkan ini akan menjadi langkah awal menuju tata kelola rezim anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme Indonesia yang lebih baik,” ujar Presiden Jokowi.
Sebagai anggota FATF, Indonesia berkewajiban untuk menerapkan standar internasional dalam pencegahan tindak pidana tersebut. Hal ini tentu saja memiliki dampak positif bagi industri aset kripto di Indonesia. Aset kripto sering kali menjadi sarana tindak pidana pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme.
CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, menyambut baik keanggotaan penuh Indonesia di FATF. Menurutnya, menjadi anggota FATF adalah langkah penting bagi Indonesia dalam menjaga keamanan dan kepatuhan dalam industri kripto. Hal ini akan mendorong pertumbuhan industri aset kripto di Indonesia menjadi lebih pesat.
"Kehadiran Indonesia sebagai anggota penuh FATF menciptakan lingkungan yang lebih aman, transparan, dan dapat dipercaya bagi para investor dan pelaku bisnis aset kripto. Dengan adanya regulasi yang lebih ketat terkait pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme, diyakini bahwa kepercayaan masyarakat dan investor terhadap pasar aset kripto di Indonesia akan semakin meningkat," kata Yudho.
Yudho menjelaskan keanggotaan ini akan mendorong Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) untuk kembali menegaskan langkah mitigasi risiko dan menyusun program kerja APU PPT terkait perdagangan aset kripto. Salah satu langkah penting yang telah diterapkan oleh Bappebti adalah terkait aturan Travel Rule yang pertama kali diusung oleh FATF pada tahun 2019.
Aturan ini memerlukan penyedia layanan aset kripto untuk melacak dan melaporkan informasi transaksi yang melibatkan pengguna mereka. Hal ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan pencegahan penyalahgunaan aset kripto dalam tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorism
"Salah satu tujuan utama Bappebti adalah melindungi masyarakat dari potensi penyalahgunaan perdagangan aset kripto sebagai sarana tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. Dengan dukungan dari FATF, Bappebti akan lebih mampu untuk melakukan tindakan pencegahan dan penindakan terhadap aktivitas ilegal yang melibatkan aset kripto," jelasnya.
Yudho menegaskan Tokocrypto akan selalu patuh dengan aturan yang ditetapkan oleh Bappebti dan FATF dalam rangka menjaga keamanan dan integritas pasar aset kripto.
"Kami memahami pentingnya kepatuhan terhadap aturan tersebut, dan kami siap bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mencegah potensi penyalahgunaan aset kripto," tambahnya.
Sebelumnya, Tokocrypto telah menerima penghargaan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) atas partisipasinya dalam pengukuran Financial Integrity Rolling on Money Laundering and Terrorism Financing (FIR on ML/TF) tahun 2022. Penghargaan ini merupakan bukti nyata dari komitmen Tokocrypto untuk mempertahankan standar kepatuhan yang tinggi dalam upaya pemberantasan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
"Dengan kerja sama yang baik antara pelaku industri, Bappebti, dan FATF, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih terjamin dan terpercaya bagi perdagangan aset kripto, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Dengan demikian, Indonesia memasuki era baru dalam pengembangan industri aset kripto yang lebih berkualitas dan berintegritas, dengan keanggotaan FATF sebagai fondasi kuatnya," tutup Yudho.
2. Bitcoin Tetap Bertahan di Level US$ 35.000, Tren Kenaikan Tetap Kuat
Harga Bitcoin (BTC) masih bertengger di kisaran US$ 35.000 pada perdagangan hari ini, menunjukkan tren kenaikan yang melambat. Namun, para analis masih yakin bahwa Bitcoin memiliki potensi untuk bergerak ke atas, didukung oleh beberapa faktor, termasuk akumulasi Bitcoin yang konsisten dan lingkungan makroekonomi yang lebih akomodatif.
Akumulasi Bitcoin yang Konsisten Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan bahwa salah satu faktor yang mendukung harga Bitcoin adalah akumulasi Bitcoin yang konsisten oleh investor jangka panjang. Menurut data Glassnode, jumlah Bitcoin yang dimiliki oleh investor jangka panjang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
"Pasokan Bitcoin sangat terbatas, dan sebagian besar BTC dimiliki oleh orang-orang yang berencana untuk menyimpannya untuk jangka waktu yang lama. Akibatnya, ada peningkatan yang luar biasa dalam jumlah Bitcoin yang diakumulasi oleh orang-orang ini seiring berjalannya waktu. Hal ini menyebabkan harga Bitcoin masih kuat," kata Fyqieh.
Nada Dovish The Fed
Faktor lainnya yang mungkin mendukung harga Bitcoin adalah nada dovish yang disampaikan oleh beberapa pejabat The Fed. Dovish dalam konteks ini mengacu pada sikap Fed yang cenderung lebih memilih kebijakan moneter yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini biasanya berdampak positif terhadap aset berisiko seperti saham dan kripto karena menurunkan daya tarik investasi pada aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi.
"Meski demikian, meski ada nada dovish tersebut, Bitcoin tampaknya memilih untuk bergerak sideways atau mendatar, menunjukkan ketidakpastian pasar. Para investor sepertinya memilih untuk bersikap hati-hati menjelang perilisan data inflasi Amerika Serikat dan kabar potensi penutupan (shutdown) pemerintah AS. Ketidakpastian pasar yang tinggi membuat investor ragu untuk mengambil posisi yang agresif. Mereka lebih memilih untuk menunggu untuk melihat data dan perkembangan sebelum mengambil keputusan investasi," jelas Fyqieh.
Data Inflasi dan Shut Down Pemerintah AS
Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Oktober 2023 akan dirilis pada tanggal 14 November 2023. Inflasi umum secara umum diperkirakan akan terkendali dari bulan ke bulan.
Namun, tren yang mendasarinya mungkin masih mengkhawatirkan Federal Reserve menjelang keputusan suku bunga berikutnya yang dijadwalkan pada tanggal 13 Desember. Terkait dengan isu makroekonomi yang lebih besar, pada tanggal 17 November 2023, pemerintah AS dihadapkan pada batas waktu untuk menemukan sumber utang baru guna menghindari shut down pemerintah. Sejarah telah menunjukkan bahwa kemungkinan akan terjadi penambahan utang baru, yang dapat menjadi faktor positif bagi pasar mata uang kripto termasuk Bitcoin.
"Jika pemerintah AS memutuskan untuk meningkatkan utang, Bitcoin mungkin akan mengalami kenaikan harga. Kedua tanggal ini, tanggal 14 dengan rilis CPI dan tanggal 17 dengan deadline utang pemerintah AS, menjadi momen krusial yang bisa mendefinisikan arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat," terang Fyqieh.
Prediksi Harga Bitcoin
Fyqieh memprediksi bahwa pergerakan Bitcoin di atas US$ 36.000 kemungkinan besar akan segera terjadi, didorong oleh akumulasi BTC yang konsisten ditambah dengan lingkungan makroekonomi yang lebih akomodatif terhadap aset-aset berisiko dengan pesan The Fed yang dovish dan optimisme atas persetujuan beberapa produk ETF Bitcoin spot dalam waktu dekat.
"Bitcoin telah menunjukkan tren kenaikan yang kuat dalam beberapa pekan terakhir. Penembusan di atas US$ 36.000 dapat memperkuat tren ini dan membuka jalan bagi BTC untuk mencapai level US$ 40.000 dan US$ 45.000 pada akhir tahun 2023," prediksi Fyiqieh.
@mpa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!