Dramatis! Mobil Satgas Bencana UNS Tertimbun Lahar Semeru. Ini Penyebabnya
VISI.NEWS | SOLO - Tim Satuan Tugas (Satgas) Bencana Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diterjunkan ke Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sejak Minggu (5/12/2021) malam, untuk membantu evakuasi di Gunung Semeru, sementara terhambat aktivitasnya karena salah satu mobil operasional yang digunakan untuk evakuasi tertimbun lahar.
Mobil Toyota Hilux 4x4 yang pada Selasa (7/12/2021) malam digunakan untuk evakuasi warga di wilayah Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, tertimbun lahar ketika material vulkanik yang terbawa air atau lahar dingin yang mengalir akibat hujan deras melanda Desa Sumberwuluh.
Mengutip penjelasan pimpinan tim yang beranggota 15 orang, terdiri atas dokter (3 orang), perawat (2 orang), tenaga medis (5 orang), tim penyelamat atau rescue (3 orang, dan relawan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS (2 orang), Wakil Rektor (WR) III bidang Riset dan Inovasi UNS, Prof. Kuncoro Diharjo, mengungkapkan kepada wartawan, Jumat (10/12/2021), tim relawan UNS di malam yang naas itu sedang melakukan evakuasi warga di wilayah Kamar Kajang, Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Dalam tugas kemanusiaan itu, tim penyelamat UNS berhasil mengevakuasi dua warga yang terjebak di permukimannya. Keduanya dievakuasi turun ke titik aman dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kesehatan.
Setelah itu, tim penyelamat UNS kembali menyisir kampung untuk memastikan tidak ada yang warga tertinggal. Dalam penyisiran, tim tidak menemukan warga yang tertinggal kemudian mereka kembali ke posko awal.
Namun ketika tim berjalan kaki sekira 10 menit, terjadi luncuran lahar dingin yang turun menerjang mobil tim Satgas Bencana UNS tersebut. “Saat itu, mobil dalam posisi terganjal batu yang terbawa lahar dingin, sehingga susah bergerak dan permukaan air berlumpur juga naik. Di saat yang kritis itu, tim berpikir harus safety. Seketika, driver bersama rescuer berupaya menyelamatkan diri. Kalau lumpur sudah naik tinggi, mereka tidak akan bisa membuka pintu mobil dan tidak dapat keluar. Itu lebih berisiko. Kemudian mereka berlari mencari titik aman dan mobil ditinggalkan,” jelas Prof. Kuncoro.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!