Doa untuk Sang Maestro
Bagi mereka, Kang Iman bukan sekadar aktor atau dosen. Ia adalah bagian penting dari perjalanan seni pertunjukan Jawa Barat yang telah menginspirasi banyak generasi.
Bambang Melga menilai kehadiran para seniman yang terus berdatangan merupakan bukti kecintaan yang tulus terhadap sosok Kang Iman.
“Kita berharap Kang Iman menerima segala cobaan ini dengan penuh keikhlasan. Kita semua insyaallah terus berikhtiar mencari cara agar Kang Iman kembali bisa sehat, dan semoga Allah mendengar harapan kita. Karena semua yang datang ke sini membawa doa sebagai bentuk kecintaan pada Kang Iman,” katanya.
***
Nama Iman Soleh bukanlah nama asing dalam jagat teater Indonesia. Lahir di Bandung pada 5 Maret 1966, ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi dan kesenian rakyat. Ketertarikannya terhadap dunia pertunjukan mulai berkembang sejak usia muda hingga akhirnya menekuni teater secara serius.
Sejak 1982, ia aktif bergabung dengan sejumlah kelompok teater penting, mulai dari Studiklub Teater Bandung (STB), Teater Payung Hitam, hingga Teater Kecil yang dipimpin maestro teater Indonesia, Arifin C. Noer.
Perjalanan panjang itu membentuk dirinya menjadi seniman yang tidak hanya piawai di atas panggung, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat. Dari pemikiran tersebut lahirlah Komunitas Celah-Celah Langit (CCL) di kawasan Ledeng, Bandung. Ruang budaya alternatif ini menjadi tempat bertemunya kreativitas, pendidikan, dan perjuangan sosial yang berpihak pada masyarakat kecil.
Konsistensinya dalam seni monolog dan teater juga mengantarkan Kang Iman ke panggung internasional. Ia pernah berkolaborasi dengan Theatre Thalipot di Pulau Reunion, Afrika, serta tampil dalam sejumlah kegiatan seni di Prancis. Pengalaman itu memperluas cakrawala artistiknya sekaligus membawa nama Indonesia ke forum budaya dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!