Doa untuk Sang Maestro

ED
PN
Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:12 WIB
Bagikan
Doa untuk Sang Maestro

VISI.NEWS — Di sebuah rumah yang tak pernah sepi dari percakapan tentang seni, sastra, dan kemanusiaan, suasana berbeda terasa dalam beberapa hari terakhir. Kediaman aktor teater senior sekaligus dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Kang Iman Soleh, dipenuhi wajah-wajah yang datang membawa doa, harapan, dan kenangan.

Seniman, seniwati, budayawan, akademisi, hingga sahabat lintas generasi silih berganti hadir. Mereka tidak datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan teater, melainkan untuk memberikan dukungan kepada seorang maestro yang selama puluhan tahun menghidupkan panggung-panggung budaya dan menyalakan api kreativitas bagi banyak orang.

Sore Selasa itu menjadi momen yang sarat emosi. Di tengah kondisi kesehatan yang mengharuskannya membatasi aktivitas dan menjalani prosedur cuci darah, Kang Iman tetap menyambut para tamunya dengan senyum dan keteguhan hati. Sosok yang begitu melekat di ingatan masyarakat Sunda lewat peran legendarisnya sebagai Kabayan Nyintrek tampak menerima ujian hidup dengan kesadaran yang dalam.

Di hadapan para sahabat yang datang menjenguk, Kang Iman berulang kali menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permohonan maaf. Baginya, sakit yang kini dijalani bukan sekadar persoalan medis, melainkan ruang perenungan spiritual yang membawanya lebih dekat kepada Sang Pencipta.

Ia memandang penyakit yang dideritanya sebagai bentuk kifarat, jalan penggugur dosa yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan suara lirih namun penuh keteguhan, ia mengungkapkan kepasrahan dan keikhlasannya menerima takdir.

“Nama Iman Soleh yang saya sandang sebagai pemberian dari orang tua sesungguhnya sangat berat,” tuturnya dalam sebuah perbincangan reflektif.

Menurutnya, nama tersebut mengandung harapan besar agar dirinya menjadi pribadi yang kuat dalam keimanan sekaligus saleh dalam perilaku dan pengabdian. Namun, di usia yang telah matang dan perjalanan hidup yang panjang, ia justru merasa belum mampu memenuhi sepenuhnya doa yang tersimpan dalam nama itu.

“Artinya harus iman dengan kuat sebagai bentuk penghambaan dan keyakinan, dan juga harus soleh sebagai bentuk abdi ketaatan kita. Sedangkan saya merasa belum seperti yang diharapkan, seperti nama yang menjadi doa dan harapan orang tua,” ujarnya.

Kalimat itu membuat suasana ruangan seketika hening. Banyak yang hadir terdiam, larut dalam renungan tentang makna hidup, perjalanan waktu, dan kerendahan hati seorang seniman besar yang justru merasa dirinya belum selesai belajar menjadi manusia.

“Mohon maaf kepada semuanya, dan terima kasih sudah datang menengok ke sini,” tambahnya.

Kehadiran para sahabat menunjukkan betapa besar jejak yang telah ditinggalkan Kang Iman dalam dunia seni dan kebudayaan. Dukungan yang datang bukan hanya dari kalangan teater, tetapi juga dari lingkungan akademik dan komunitas budaya yang selama ini bersentuhan dengan karya-karyanya.

Pada Senin sebelumnya, Rektor ISBI Bandung, Dr. Retno Dwimarwati, hadir menjenguk bersama budayawan senior Prof. Arthur S. Nalan. Kehadiran keduanya menjadi simbol penghormatan institusi dan dunia kebudayaan terhadap sosok yang selama ini dikenal sebagai pengajar sekaligus pejuang kebudayaan.

Turut hadir pula tokoh seniman dan penggiat kepewarisan seni bela diri silat Abah Nanu, tokoh sastra Ridwan C.H. Madris, serta Bambang Melga, Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar yang juga pengurus MUI Jawa Barat dan Dewan Pakar ICMI Kabupaten Bandung.

Di antara percakapan hangat yang berlangsung, Abah Nanu menyampaikan optimisme bahwa harapan untuk sembuh selalu terbuka.

“Tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa jadi sehat kembali, Kang Iman. Insyaallah kita selalu berikhtiar untuk mencari cara agar Kang Iman bisa kembali sehat,” ujarnya yang kemudian diamini oleh para sahabat lainnya.

Bagi mereka, Kang Iman bukan sekadar aktor atau dosen. Ia adalah bagian penting dari perjalanan seni pertunjukan Jawa Barat yang telah menginspirasi banyak generasi.

Bambang Melga menilai kehadiran para seniman yang terus berdatangan merupakan bukti kecintaan yang tulus terhadap sosok Kang Iman.

“Kita berharap Kang Iman menerima segala cobaan ini dengan penuh keikhlasan. Kita semua insyaallah terus berikhtiar mencari cara agar Kang Iman kembali bisa sehat, dan semoga Allah mendengar harapan kita. Karena semua yang datang ke sini membawa doa sebagai bentuk kecintaan pada Kang Iman,” katanya.

***

Nama Iman Soleh bukanlah nama asing dalam jagat teater Indonesia. Lahir di Bandung pada 5 Maret 1966, ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi dan kesenian rakyat. Ketertarikannya terhadap dunia pertunjukan mulai berkembang sejak usia muda hingga akhirnya menekuni teater secara serius.

Sejak 1982, ia aktif bergabung dengan sejumlah kelompok teater penting, mulai dari Studiklub Teater Bandung (STB), Teater Payung Hitam, hingga Teater Kecil yang dipimpin maestro teater Indonesia, Arifin C. Noer.

Perjalanan panjang itu membentuk dirinya menjadi seniman yang tidak hanya piawai di atas panggung, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat. Dari pemikiran tersebut lahirlah Komunitas Celah-Celah Langit (CCL) di kawasan Ledeng, Bandung. Ruang budaya alternatif ini menjadi tempat bertemunya kreativitas, pendidikan, dan perjuangan sosial yang berpihak pada masyarakat kecil.

Konsistensinya dalam seni monolog dan teater juga mengantarkan Kang Iman ke panggung internasional. Ia pernah berkolaborasi dengan Theatre Thalipot di Pulau Reunion, Afrika, serta tampil dalam sejumlah kegiatan seni di Prancis. Pengalaman itu memperluas cakrawala artistiknya sekaligus membawa nama Indonesia ke forum budaya dunia.

Sepanjang kariernya, berbagai penghargaan diraih. Salah satunya ketika ia dinobatkan sebagai pembaca puisi terbaik pada tahun 1989. Namun bagi banyak orang yang mengenalnya, penghargaan terbesar Kang Iman bukanlah piala atau piagam, melainkan dedikasinya dalam membimbing generasi muda dan menjaga nyala kebudayaan agar terus hidup.

Sebagai dosen ISBI Bandung, ia telah melahirkan banyak seniman muda. Sebagai pekerja budaya, ia terus membuka ruang dialog dan kreativitas bagi masyarakat. Dan sebagai manusia, ia mengajarkan bahwa seni sejatinya adalah jalan untuk memahami kehidupan.

Kini, ketika sang maestro tengah menghadapi ujian kesehatan yang berat, dukungan dan doa datang dari berbagai penjuru. Di rumah sederhana yang beberapa hari terakhir menjadi tempat berkumpulnya para sahabat, harapan terus dipanjatkan agar Allah SWT memberikan kesembuhan dan kekuatan.

Sebab bagi dunia seni Jawa Barat, Kang Iman Soleh bukan hanya seorang aktor atau akademisi. Ia adalah penjaga api kebudayaan yang telah menerangi banyak jalan.

“Mohon doa dari semuanya, agar Kang Iman Soleh bisa sehat kembali,” tutup Abah Nanu penuh harap.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.