Dede Farhan : KTT AIS Forum 2023 di Bali Diharapkan Mempertegas Posisi Indonesia di Mata Internasional
Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa negara-negara pulau dan kepulauan punya karakter resilient dan inovatif. Artinya memiliki kapasitas untuk menyelesaikan permasalahan dengan semangat kebersamaan dan inovasi – inovasi yang komprehensif dan terintegrasi agar diketahui dan dipahami oleh setiap negara anggota sehingga bisa memanfaatkannya secara maksimal. Oleh karenanya menarik untuk menantikan hasilnya berupa Leaders Declaration di bidang Blue Economy, Marine Polution, Mitigasi terhadap Climate Change, dan Ocean Governance.
Kemudian Dede juga menambahkan bahwa mitigasi perubahan iklim melibatkan tindakan yang bertujuan mengurangi dampak negatif dari laju perubahan iklim. Sedangkan, ekonomi biru adalah upaya untuk menjaga lingkungan laut demi kemakmuran terbesar bagi masyarakat, melalui pemanfaatan sumber daya laut dengan prinsip-prinsip ekonomi biru. Termasuk penanganan sampah laut yang semakin memprihatinkan dimana ada sekitar 8 juta ton plastik masuk ke lautan Indonesia setiap tahun. Limbah plastik menyumbang 80 persen dari semua sampah laut, dari perairan permukaan hingga ke sedimen laut dalam.
Adapun, tata kelola laut yang berkelanjutan adalah pelaksanaan terpadu kebijakan, tindakan, dan urusan yang berkaitan dengan lautan negara-negara kepulauan dan pulau untuk melindungi lingkungan laut, penggunaan yang berkelanjutan dari sumber daya pesisir dan laut, serta konservasi biodiversitasnya. Oleh sebab itu, dalam sejumlah kesempatan pascadeklarasi, AIS Forum mulai menggembangkan aneka inovasi sebagai nilai-nilai dasar dalam bentuk solusi cerdas dan inovatif. Untuk itulah dalam perkembangannya, AIS Forum telah menciptakan kemitraan internasional untuk mengembangkan solusi inovatif. Inisiatif ini mengubah tantangan besar menjadi peluang untuk inovasi dan pemikiran kreatif. Misalnya, aplikasi Konversi Karbon Padang Lamun (Seagrass Carbon Converter/SCC) yang merupakan aplikasi berbasis web untuk menghitung cadangan dan penyerapan karbon di padang lamun.
Lamun merupakan tanaman hijau yang tumbuh di dasar laut dangkal antara 0 -10 meter dan menjadi penyerap karbon terbaik serta menjadi pengendali perubahan iklim. Dalam tiap satu hektare padang lamun, karbon yang mampu diserap mencapai 6,59 ton per tahun.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!