Dede Farhan Aulawi Sampaikan Prognosa Keamanan dan Ekonomi Global 2024
Kondisi pelemahan ekonomi yang terjadi tidak hanya pada negara yang terlibat perang secara langsung saja, tetapi berdampak pada negara – negara yang lainnya. Lihat saja bagaimana ekonomi China yang terus menandakan tanda-tanda pelemahan, misalnya terkait dengan penjualan ritel, dan produksi manufaktur serta pertumbuhan pinjaman. Jadi China saat ini menghadapi kemerosotan sektor properti, lemahnya belanja konsumen dan jatuhnya pertumbuhan kredit yang menyebabkan bank-bank besar menurunkan perkiraan pertumbuhan mereka untuk tahun ini. Sebelumnya, pemerintah mengumumkan pengurangan separuh bea materai pada perdagangan saham, dan pemotongan pajak untuk meningkatkan sentimen investor.
Begitupun dengan Jepang, dimana angka output pabrik yang melemah dan menunjukkan kontraksi ekspor karena melemahnya permintaan global terhadap minyak ringan dan peralatan pembuatan chip. Output peralatan manufaktur semikonduktor juga mengalami penurunan.
Sementara itu negara India nampaknya akan mengalami pertumbuhan yang ditandai dengan meningkatnya nilai produk domestik bruto (PDB) yang tumbuh sebesar 7,7%. Harga komoditas yang lebih rendah membantu produsen meningkatkan margin dan mengimbangi dampak kenaikan suku bunga kumulatif. Termasuk sumbangsih sektor jasa yang menyumbang lebih dari separuh output perekonomiannya, telah membantu negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia ini melawan perlambatan global. Nampaknya, tantangan beratnya di sector manufaktur pakaian, sepatu, dan elektronik untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%.
“ Secara umum, meskipun prospek pertumbuhan negara-negara berbeda dan membentuk fragmentasi atau divergensi, hampir seluruhnya memiliki tekanan fiskal yang sama dengan beban utang negara-negara maju (termasuk G7) dan negara-negara berkembang diproyeksikan akan terus meningkat. Inilah yang menjadi concern dalam menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang kredibel, berkelanjutan dan inklusif, disertai kolaborasi antarnegara dalam memulihkan ekonomi dunia yang divergen. Diferensiasi pertumbuhan ekonomi terlihat bukan hanya antara negara maju (Eropa, G7, dan AS) dan negara berkembang, khususnya Asia yang memiliki resiliensi lebih baik. Ekonomi Inggris pun berusaha untuk bangkit sebagai akibat dari kombinasi krisis ekonomi dan politik," pungkas Dede mengakhiri percakapan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!