Dari Stek Jadi Hijau, Bibit Tanaman Bandung Diproduksi Sendiri
VISI.NEWS — Upaya menghijaukan Kota Bandung tidak hanya dilakukan melalui penataan taman, median jalan, dan trotoar. Di balik berbagai ruang hijau tersebut, terdapat proses pembibitan yang memastikan ketersediaan tanaman tetap terjaga.
Salah satu unit yang menjalankan tugas tersebut adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan Tanaman Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung. UPT ini bertugas memproduksi dan memperbanyak berbagai jenis tanaman hias untuk mendukung kebutuhan penghijauan di berbagai wilayah Kota Bandung.
Bibit yang diproduksi digunakan untuk taman kota, median jalan, hingga area trotoar. Selain untuk kebutuhan pemerintah, sebagian tanaman juga dapat diberikan kepada masyarakat melalui lembaga kewilayahan, seperti kelurahan, kecamatan, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).
Plh Kepala UPT Pembibitan Tanaman DPKP Kota Bandung, Dian, mengatakan pembibitan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan penghijauan di Kota Bandung.
“UPT Pembibitan adalah UPT yang tugasnya memperbanyak bibit-bibit tanaman hias untuk ditanam di median jalan atau trotoar jalan. Ada juga yang diberikan kepada pemohon di wilayah, seperti kelurahan dan kecamatan,” ujar Dian.
Proses menghasilkan bibit tanaman tersebut dimulai dari tanaman yang sudah tumbuh dan berkembang di taman-taman kota maupun kawasan penghijauan lainnya.
Tanaman yang tersedia kemudian diperbanyak melalui metode stek. Cara ini memungkinkan tanaman yang sudah ada dikembangkan kembali menjadi bibit baru tanpa harus selalu bergantung pada pengadaan tanaman dari luar.
“Untuk produksi kita dari nol, biasanya kita menyetek dulu bibit tanaman yang tersedia. Setelah itu dimasukkan ke polybag dengan media tanam yang sudah disiapkan,” kata Dian.
Setelah melalui proses stek, calon tanaman ditempatkan di dalam polybag. Media tanam yang digunakan terdiri atas tanah, kompos, dan pupuk kandang.
Bibit kemudian dirawat hingga membentuk akar yang cukup kuat. Tahapan ini menjadi penting karena tanaman harus berada dalam kondisi yang siap sebelum dipindahkan atau didistribusikan untuk kebutuhan penghijauan.
Dengan proses tersebut, tanaman yang sebelumnya hanya tumbuh di satu lokasi dapat diperbanyak menjadi tanaman baru yang kemudian dimanfaatkan di berbagai titik Kota Bandung.
Kegiatan UPT Pembibitan tidak berhenti pada produksi bibit. Unit tersebut juga bertugas memastikan ketersediaan tanaman untuk mendukung perawatan taman-taman yang dikelola Pemerintah Kota Bandung.
Kebutuhan tanaman untuk pemeliharaan taman dapat terus berubah. Tanaman yang rusak, mati, atau membutuhkan penggantian harus tersedia agar kondisi ruang terbuka hijau tetap terjaga.
Karena itu, keberadaan fasilitas pembibitan menjadi salah satu penunjang dalam pengelolaan ruang hijau perkotaan. Pemerintah tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga perlu memastikan tersedianya cadangan tanaman untuk mengganti dan memperbarui vegetasi yang ada.
Tanaman yang dikembangkan UPT Pembibitan berasal dari tanaman yang telah tumbuh di sejumlah taman kota dan area penghijauan lainnya. Proses perbanyakan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan.
Selain memenuhi kebutuhan internal pemerintah, UPT Pembibitan juga membuka akses bagi lembaga kewilayahan yang membutuhkan tanaman untuk penghijauan di lingkungannya.
Kelurahan, kecamatan, maupun LPM dapat mengajukan permohonan tanaman sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Pengajuan dilakukan melalui surat, baik secara langsung maupun secara daring.
Setiap penyerahan tanaman juga dilengkapi dengan berita acara serah terima. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari administrasi sekaligus memastikan distribusi tanaman tercatat dengan baik.
Menariknya, tanaman yang diberikan kepada pemohon tidak dikenakan biaya. Namun, pemberian tersebut tetap mempertimbangkan ketersediaan tanaman dan kebutuhan utama Pemerintah Kota Bandung.
Prioritas UPT Pembibitan tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tanaman bagi taman-taman yang berada dalam pengelolaan Pemkot Bandung.
Artinya, distribusi kepada wilayah dan masyarakat dilakukan setelah mempertimbangkan kebutuhan pemeliharaan taman kota. Dengan pola tersebut, keberadaan bibit diharapkan dapat mendukung penghijauan secara lebih luas tanpa mengurangi kebutuhan tanaman untuk ruang publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah.
Proses pembibitan yang dilakukan secara mandiri juga memberikan manfaat dalam menjaga keberlanjutan pasokan tanaman. Tanaman yang dibutuhkan untuk penghijauan tidak sepenuhnya harus didatangkan dari luar karena dapat diperbanyak dari tanaman yang sudah tersedia di lingkungan Kota Bandung.
Dari satu tanaman, proses stek dapat menghasilkan bibit baru yang kemudian dirawat hingga siap ditanam. Bibit-bibit tersebut selanjutnya dapat menjadi bagian dari taman, median jalan, maupun penghijauan di kawasan trotoar.
Keberadaan UPT Pembibitan dengan demikian menjadi salah satu bagian yang bekerja di balik wajah hijau Kota Bandung. Ketika masyarakat melihat taman yang tertata atau median jalan yang dipenuhi tanaman, terdapat proses panjang mulai dari memilih bahan tanaman, melakukan stek, menyiapkan media tanam, merawat bibit, hingga mendistribusikannya.
Penghijauan kota tidak hanya bergantung pada penanaman, tetapi juga pada kemampuan menyediakan tanaman secara berkelanjutan. Semakin terjaga ketersediaan bibit, semakin mudah pula pemerintah melakukan penggantian tanaman dan memperluas area penghijauan.
Bagi Kota Bandung, keberadaan tanaman di ruang publik memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memperindah lingkungan. Taman, median jalan, dan area hijau turut membentuk suasana kota yang lebih nyaman bagi masyarakat.
Karena itu, proses pembibitan menjadi bagian penting dari rangkaian pengelolaan ruang hijau. Bibit yang dirawat hari ini menjadi tanaman yang nantinya dapat menghiasi ruang publik dan memperkuat karakter Kota Bandung sebagai kota yang hijau dan asri.
Melalui UPT Pembibitan Tanaman DPKP, Pemkot Bandung berupaya menjaga siklus tersebut agar terus berjalan. Tanaman yang telah tumbuh dapat diperbanyak, bibit dirawat hingga kuat, kemudian digunakan kembali untuk kebutuhan penghijauan.
Pada akhirnya, aktivitas pembibitan yang berlangsung di balik layar tersebut menjadi salah satu fondasi untuk menjaga ruang hijau Kota Bandung. Dari stek tanaman yang sederhana, lahir bibit-bibit baru yang kemudian berkontribusi menghadirkan lingkungan kota yang lebih hijau, asri, dan nyaman bagi masyarakat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!