DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh "Sayuriyah"
Memiliki lahan pertanian seluas 15 hektar, Pesantren Al Ittifaq benar-benar bisa mengoptimalkan keberadaan asetnya yang berupa tanah pertanian tersebut, sampai bisa menjadi percontohan dan di jadikan laboratorium agribisnis unggul, yang spesialisasinya di bidang pertanian dan peternakan.
Al Ittifaq juga terkenal sebagai pesantren penghasil sayuran, buah-buahan, dengan kualitas super dan terbaik. Hasilnya disuplai terutama ke pasar-pasar modern seperti Superindo, Yogya Supermarket, dan pasar-pasar tradisional lain tentunya, sehingga ada anekdot Pesantren Al Ittifaq merupakan pesantren yang bertariqoh Sayuriyah.
Rumus Tilu "Ur"
Itu semua tak lepas dari prinsip mengoptimalkan keberadaan lahan, yang menurut Kiai Fuad Affandi harus memiliki rumusan tilu Ur, "Rumusna mah tilu 'ur'," kata Mang Haji, biasa masyarakat memanggilnya.
“Ulah aya lahan tidur, ulah aya waktu nganggur, ulah aya runtah ngawur.”
Karena prinsip ini maka halaman-halaman rumah di sekeliling pesantren benar-benar termanfaatkan. Nyaris tak ada petak tanah halaman rumah tak termanfaatkan. Semuanya ditanami sayur, atau dibikin jadi kolam ikan. Ibu-ibu jadi tidak menganggur karena waktunya dipakai menanam, semua petak tanah tidak ada yang tidur, dan halaman jadi bersih, tak ada runtah (sampah) yang ngawur (berceceran).
Dan hasil pekarangan itu dikonsumsi sehingga gizi keluarga terjaga. Hasil lebihnya ditampung oleh Al-Itifaq sehingga setiap keluarga punya tambahan penghasilan. Jadi kalau di luar ada krisis pangan atau gejolak harga di pasar, penduduk sekitar pesantren mah adem-adem bae. Inilah yang dimaksud dengan fungsi jaring sosial pesantren. Kalau pesantren jadi jangkar komunitas, maka rakyat di sekelilingnya akan terlindungi dari krisis. Minimal soal pangan aman.
Kiai Tawadhu
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!