DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh "Sayuriyah"
Dan ikatan kuat itu semakin ditegaskan, bila ada acara besar seperti Maulid Nabi, maka K.H. Fuad Affandi lah yang diminta masyarakat di setiap RW yang ada di sana, untuk menentukan tanggal bagi peringatan acara tersebut. Sehingga, pelaksanaan Perayaan Maulid Nabi di setiap RW yang ada di sana, semuanya itu bisa dihadiri K.H. Fuad Affandi, dan selama kiai masih hidup, tak pernah ada acara perayaan besar Islam yang bentrok acaranya, itu karena masyarakat di sana, mengutamakan kehadiran kiai kharismatik ini untuk bisa bertausiah, bersilaturahmi, dan mengunjungi para mantan santrinya yang ada di hampir seluruh RW, di Rancabali, terutama Desa Ciburial itu.
Pantas saja pesantren Al Ittifaq itu tak memerlukan benteng-benteng kokoh sebagai pembatas pesantrennya dengan masyarakat, karena benteng sesungguhnya dari pesantren itu sendiri, adalah masyarakat di sana yang merupakan bagian dari keluarga besar Pesantren Al Ittifaq.
Jejak Kiai Fuad Affandi
Beberapa catatan masa muda beliau dalam menuntut ilmu, berkelana ke berbagai pesantren untuk mendalami ilmu, dan nyantri. Riwayat pendidikan yang ditempuhnya antara lain Sekolah Rakyat (SR) yang dijalani sampai kelas 4. Setelah itu K.H. Fuad Affandi muda memutuskan untuk nyantri di Sukasari Bandung, Sumedang, Banjar Patroman Ciamis, dan Al-Hidayah, Lasem, Krapyak Yogyakarta dan sejumlah pondok pesantren lainnya.
Pesantren Al Ittifaq mencapai masa keemasannya pada masa kepemimpinan K.H. Fuad Affandi, yang lahir pada 20 Juni tahun 1948. Kisi Fuad memimpin pesantren setelah menyelesaikan pendidikan di bawah bimbingan K.H. Ali Maksum, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.
Guru-guru beliau lainnya sewaktu beliau menuntut ilmu adalah: 1. KH. Manshur 2. KH. Ma'shoem Ahmad 3. KH. Maimoen Zubair
Riwayat Organisasi Kiai Fuad Affandi, beliaunya pernah menjabat sebagai Rais Suriah PCNU Kabupaten Bandung.
Kiai Fuad Affandi adalah kiai yang berpikiran maju, ia sangat visioner sekali melihat keberadaan pesantrennya, yang ada di tengah masyarakat berkultur agraris. Sehingga, dengan melihat kelebihan masyarakatnya yang hidup dari bidang pertanian, iapun mempopulerkan pesantrennya menjadi pesantren agribisnis pertama di bidang pertanian, yang mampu menjembatani para petani di sana hingga terus mampu berkembang dan ikut terbantu pemasaran hasil taninya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!