Energi dan Infrastruktur Digital Menguat, IEE Series 2026 Hadirkan Tiga Sektor Strategis 3 Sep 2026 Indonesia–Macao Perkuat Kerja Sama, 80 Kesepakatan Dibidik 3 Sep 2026 Dari Kebun Buah ke Panggung Dunia: Belajar dari Thailand 3 Sep 2026 Bandung Dampingi 1.000 UMKM Urus Sertifikasi Halal 3 Sep 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Kamis 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Energi dan Infrastruktur Digital Menguat, IEE Series 2026 Hadirkan Tiga Sektor Strategis 3 Sep 2026 Indonesia–Macao Perkuat Kerja Sama, 80 Kesepakatan Dibidik 3 Sep 2026 Dari Kebun Buah ke Panggung Dunia: Belajar dari Thailand 3 Sep 2026 Bandung Dampingi 1.000 UMKM Urus Sertifikasi Halal 3 Sep 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Kamis 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 3 September 2026 3 Sep 2026

Dari Kebun Buah ke Panggung Dunia: Belajar dari Thailand

ED
PN
Kamis, 3 September 2026 | 05:18 WIB
Bagikan
Dari Kebun Buah ke Panggung Dunia: Belajar dari Thailand

Wonderers menikmati musik, seni, dan pengalaman bersama dalam Wonderfruit 2026 di The Fields at Siam Country Club, Chonburi, Thailand, 3–7 Desember 2026. /visi.news/ist

VISI.NEWS — Buah bukan sekadar hasil kebun. Di tengah berkembangnya tren kuliner, pariwisata, gaya hidup sehat, hingga ekonomi kreatif, buah dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan identitas sebuah negara kepada dunia.

Indonesia dan Thailand sama-sama memiliki kekayaan buah tropis yang besar. Durian, manggis, rambutan, pisang, nanas, salak, kelapa, hingga berbagai buah eksotis tumbuh di kawasan Asia Tenggara dengan karakter rasa yang kuat dan beragam. Tantangannya kini bukan lagi sekadar menghasilkan buah dalam jumlah besar, melainkan bagaimana mengubahnya menjadi produk bernilai tambah yang semakin diminati konsumen, baik di pasar domestik maupun internasional.

Thailand telah menunjukkan bagaimana bahan pangan lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman budaya. Salah satu contohnya terlihat dalam Wonderfruit, perayaan tahunan seni, musik, budaya, makanan, dan alam yang kembali digelar pada 3–7 Desember 2026 di The Fields at Siam Country Club, Chonburi.

Memasuki edisi ke-11, Wonderfruit mengusung tema “Field Village”, yang membawa festival kembali pada akarnya sebagai festival lokal Thailand. The Fields diperlakukan seperti sebuah desa hidup—tempat musik, seni, makanan, tradisi, alam, dan masyarakat bertemu.

Di sinilah makanan dan bahan lokal mendapatkan peran yang lebih besar. Program Stories to Eat, misalnya, menghadirkan bahan-bahan lokal dan resep tradisional Thailand serta kawasan sekitarnya melalui kegiatan memasak, lokakarya pangan, chef's table, experiential dining, dan makan bersama.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa produk pertanian dapat dipromosikan bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai cerita.

Thailand: Ketika Buah Menjadi Bagian dari Pengalaman

Thailand selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara kuat dalam industri buah tropis. Durian, manggis, rambutan, mangga, nanas, kelapa, dan berbagai produk olahannya telah memiliki pasar di banyak negara.

Keunggulan Thailand tidak hanya terletak pada produksi. Ekosistem pangan dan pariwisatanya turut membantu menciptakan pengalaman konsumen. Buah dapat hadir di pasar tradisional, restoran, hotel, pusat oleh-oleh, festival makanan, hingga produk olahan dengan kemasan modern.

Model seperti ini penting karena konsumen internasional pada akhirnya tidak hanya membeli rasa. Mereka juga membeli pengalaman, kualitas, keamanan, cerita asal-usul, dan citra produk.

Wonderfruit menjadi salah satu contoh bagaimana makanan lokal dapat ditempatkan dalam konteks budaya yang lebih luas. Pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi untuk mengalami hubungan antara bahan pangan, tradisi, kreativitas, alam, dan komunitas.

Bagi produk buah, pendekatan semacam ini membuka peluang besar: buah dapat diposisikan sebagai bagian dari identitas destinasi dan gaya hidup, bukan sekadar bahan mentah.

Indonesia Punya Modal yang Tak Kalah Besar

Indonesia memiliki keunggulan yang sangat besar dari sisi biodiversitas dan keragaman buah tropis.

Durian dari berbagai daerah, manggis, rambutan, salak, mangga, pisang, nanas, alpukat, markisa, jeruk, kelapa, hingga buah-buah lokal yang belum banyak dikenal pasar internasional menawarkan karakter yang berbeda-beda.

Persoalannya adalah bagaimana keragaman tersebut diterjemahkan menjadi produk yang konsisten dan mudah dikenali.

Di pasar global, misalnya, konsumen tidak cukup hanya diberi informasi bahwa sebuah buah berasal dari Indonesia. Produk perlu memiliki identitas yang kuat: berasal dari wilayah mana, apa keunikannya, bagaimana rasanya, bagaimana proses produksinya, dan mengapa konsumen perlu memilihnya dibanding produk dari negara lain.

Karena itu, pekerjaan rumah industri buah Indonesia berada pada banyak lapisan, mulai dari budidaya, kualitas pascapanen, rantai dingin, pengemasan, sertifikasi, keamanan pangan, hingga pemasaran.

Dari Buah Segar ke Produk Bernilai Tambah

Salah satu peluang terbesar adalah tidak berhenti pada penjualan buah segar.

Buah dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti puree, jus, buah beku, buah kering, selai, saus, makanan ringan, dessert, minuman, hingga bahan baku industri makanan dan minuman.

Pendekatan ini juga membantu mengatasi persoalan umur simpan. Buah yang memiliki masa konsumsi pendek dapat memperoleh nilai ekonomi lebih panjang ketika diolah dengan teknologi yang tepat.

Di sisi lain, produk olahan memungkinkan produsen membawa cita rasa buah tropis Indonesia ke pasar yang lebih luas tanpa selalu bergantung pada distribusi buah segar.

Durian, misalnya, dapat diperkenalkan melalui berbagai bentuk produk. Begitu pula manggis, nanas, pisang, kelapa, mangga, dan buah tropis lainnya. Yang diperlukan adalah konsistensi kualitas sekaligus kreativitas dalam menemukan format produk yang sesuai dengan kebiasaan konsumen modern.

Bukan Hanya Ekspor, Pasar Dalam Negeri Juga Penting

Ambisi membawa buah Indonesia ke pasar dunia tidak berarti mengabaikan konsumen domestik.

Justru, pasar dalam negeri dapat menjadi laboratorium untuk membangun merek dan menguji produk sebelum masuk ke pasar ekspor.

Generasi konsumen baru semakin terbuka terhadap produk lokal yang dikemas secara modern. Buah lokal dapat masuk ke kafe, restoran, hotel, pusat kebugaran, industri makanan-minuman, hingga platform perdagangan digital.

Jika masyarakat Indonesia semakin mengenal dan menghargai produk buah lokal, ekosistem industri akan memiliki fondasi yang lebih kuat.

Menaikkan kelas buah lokal juga berarti mengubah cara pandang: dari produk pertanian yang mudah dibandingkan berdasarkan harga menjadi produk yang memiliki asal-usul, karakter, kualitas, dan cerita.

Belajar dari Cara Thailand Bercerita

Salah satu pelajaran menarik dari Thailand adalah pentingnya menghubungkan pangan dengan budaya.

Wonderfruit memperlihatkan bagaimana makanan dapat menjadi bagian dari pengalaman yang lebih besar. Dalam program Stories to Eat, bahan lokal dan resep tradisional tidak hanya disajikan sebagai menu, tetapi menjadi medium untuk berbagi cerita dan pengetahuan.

Pendekatan tersebut relevan bagi Indonesia.

Festival musik, pameran seni, event pariwisata, pasar kreatif, festival kuliner, hingga promosi destinasi dapat menjadi panggung untuk memperkenalkan buah lokal.

Bayangkan wisatawan mencicipi manggis dari suatu daerah, mengetahui cerita petaninya, melihat bagaimana buah tersebut dipanen, kemudian menikmati dessert berbahan buah yang sama. Pengalaman seperti ini jauh lebih kuat dibanding sekadar melihat buah di rak supermarket.

Pada akhirnya, promosi buah bukan hanya soal iklan. Ini soal menciptakan pengalaman yang membuat orang ingin mencoba, mengingat, lalu membeli kembali.

Dari Komoditas Menjadi Identitas

Persaingan buah tropis dunia pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menghasilkan paling banyak.

Negara yang mampu membangun reputasi kualitas, menjaga konsistensi, menciptakan produk bernilai tambah, dan mengemas kekayaan alamnya sebagai cerita akan memiliki posisi lebih kuat.

Indonesia memiliki bahan baku dan keragaman yang sangat besar. Thailand menunjukkan bagaimana kekayaan pangan dapat terhubung dengan pariwisata, budaya, kuliner, dan pengalaman konsumen.

Keduanya memberikan pelajaran penting bagi industri buah Asia Tenggara: buah lokal dapat menjadi produk global ketika kualitas bertemu kreativitas dan cerita.

Wonderfruit 2026, yang berlangsung selama lima hari dan lima malam pada 3–7 Desember di The Fields at Siam Country Club, menjadi salah satu contoh bagaimana musik, seni, makanan, tradisi, dan alam dapat ditempatkan dalam satu pengalaman budaya.

Bagi Indonesia, peluangnya terbuka luas. Buah-buah tropis tidak harus berhenti sebagai hasil panen. Dengan inovasi, standardisasi, pengolahan, branding, dan promosi yang tepat, buah dapat berubah menjadi produk kuliner, oleh-oleh, bahan industri, daya tarik wisata, sekaligus representasi identitas Indonesia di pasar dunia.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.