Dari Gurita ke Tata Kelola: Pembelajaran Nelayan Pulau Kecil Menjaga Laut Spermonde

ED
Kamis, 25 Desember 2025 | 14:31 WIB
Bagikan
Dari Gurita ke Tata Kelola: Pembelajaran Nelayan Pulau Kecil Menjaga Laut Spermonde

VISI.NEWS | MAKASSAR - Pulau-pulau kecil di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus mempertahankan penghidupan nelayan skala kecil. Tekanan pasar, kerusakan ekosistem karena penangkapan yang merusak, perubahan iklim, dan keterbatasan akses ekonomi membuat laut kian dieksploitasi, sementara daya dukungnya terus menurun.

Di Pulau Langkai, Lanjukang, dan Bonetambu Kota Makassar, gurita menjadi salah satu komoditas utama yang menopang ekonomi rumah tangga nelayan. Nilai jualnya tinggi dan permintaannya stabil. Namun, intensitas penangkapan yang meningkat dalam dua dekade terakhir mulai memunculkan tanda-tanda tekanan ekologis. Ukuran gurita mengecil, hasil tangkapan fluktuatif, dan nelayan harus melaut lebih jauh.

“Tidak bisa lagi mengandalkan satu titik tangkap. Sebelum kami memulai program yang namanya buka tutup, daerah tangkap lumayan jauh padahal kalau dulu dekat pulau cukup,” kata Erwin RH, nelayan Pulau Langkai di Kota Makassar, Rabu 24/12/2025.

Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim. Musim barat yang semakin panjang membatasi hari melaut nelayan. Dalam situasi tersebut, laut tetap menjadi tumpuan utama karena alternatif mata pencaharian di pulau kecil sangat terbatas.

Gurita sebagai Pintu Masuk Tata Kelola

Sejak 2021, Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKL) Indonesia bersama masyarakat pesisir Spermonde melalui Program Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat (PROTEKSI GAMA). Pendekatan yang digunakan menempatkan nelayan sebagai aktor utama dalam pengelolaan perikanan.

“Gurita dipilih karena secara ekonomi penting bagi nelayan, tetapi secara biologis sangat sensitif terhadap penangkapan berlebih. Jika diberi ruang dan waktu, stoknya bisa pulih relatif cepat,” ujar Alief Fachrul Raazy, Program Manager YKL Indonesia.

Pendampingan tidak dimulai dengan pembatasan atau larangan, melainkan penyusunan profil perikanan secara partisipatif. Nelayan dilibatkan mencatat alat tangkap, musim, lokasi penangkapan, volume hasil, hingga harga jual. Data ini kemudian menjadi dasar diskusi bersama untuk memahami kondisi sumber daya secara lebih objektif.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.