Dari Gurita ke Tata Kelola: Pembelajaran Nelayan Pulau Kecil Menjaga Laut Spermonde
Kesadaran konservasi juga meluas ke spesies lain. Di Pulau Lanjukang, masyarakat aktif melindungi sarang penyu dan melepasliarkan ribuan tukik dalam beberapa tahun terakhir. “Dari gurita, kami belajar menjaga yang lain,” ujar Anas nelayan dari Pulau Lanjukang.
Bonetambu sebagai Ruang Replikasi
Pada 2024–2025, pendekatan PROTEKSI GAMA direplikasi di Pulau Bonetambu, salah satu sentra perikanan gurita terbesar di Kota Makassar. Bonetambu menjadi ruang pembelajaran penting untuk melihat apakah model ini dapat bekerja di wilayah dengan tekanan tangkap yang tinggi.
Sekitar 70 hektar wilayah buka tutup mulai dirintis. Monitoring hasil tangkapan diperkuat melalui pencatatan harian nelayan, sementara Sekolah Tanpa Ragu (SETARA) digelar sebagai ruang belajar bersama.
“Bonetambu menjadi ujian penting. Jika tata kelola berbasis masyarakat bisa berjalan di sini, peluang replikasi di wilayah pesisir lain akan semakin besar,” kata Nirwan.
"Setelah belajar di Pulau Langkai dan Lanjukang, kami coba buka tutup. Hasilnya setelah dibuka luar biasa, nelayan yang menangkap sebentar saja bisa dapat gurita grade A atau yang paling tinggi. Selama ditutup juga menurun bahkan hilang pelaku bom ikan," ujar H. Gassing Tokoh Masyarakat di Pulau Bonetambu.
Pembelajaran dari Pulau-Pulau Kecil
Pengalaman dari Spermonde menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan skala kecil yang berkelanjutan tidak selalu membutuhkan instrumen rumit. Data sederhana, kesepakatan lokal, dan kepercayaan antar nelayan dapat menjadi fondasi kuat tata kelola sumber daya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!