Danang Wicaksana: Narasi Tiga Juta Rumah Harus Sederhana dan Mudah Dipahami
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 21 Mei 2025 | 19:47 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya, meminta pemerintah untuk memperjelas narasi mengenai program 3 juta rumah yang menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Danang menilai penyampaian informasi kepada publik masih bersifat umum dan berpotensi memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kalau dibahasakan tadi roadmap tiga juta rumah dengan berbagai macam yang diupayakan oleh APBN apa, di luar APBN apa, ini perlu disampaikan dengan bahasa sederhana. Jadi, jangan sampai masyarakat mengira tiga juta rumah baru dan bahkan ada yang mengira gratis,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (21/5/2025).
Menurut Danang, banyak konstituennya yang bertanya-tanya soal bentuk konkret dari program tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera menyusun penjelasan terbuka mengenai komponen program, seperti pembangunan rumah baru, renovasi, peran pihak ketiga, hingga kemudahan dalam proses perizinan bangunan.
“Mohon narasi ini segera dibikinkan kepada publik bahwa pemenuhan program 3 juta rumah ini terdiri dari a, b, c, d, e walaupun mungkin tidak se-detail peta jalan program, tapi dengan bahasa sederhana,” katanya.
Ia pun berharap Kementerian PKP tidak hanya mengedepankan narasi pembangunan 3 juta rumah secara umum, tanpa menjelaskan isi dan bentuk kontribusinya.
“Khawatir pada saat kalau umpamanya narasi ini yang selalu dikembangkan terus, tanpa (menjelaskan) 3 juta rumah ternyata terdiri dari membangun, merenov, kemudian ada sumbangan dari pihak ke-3, ada mempermudah proses PBG masuk dalam salah satu program dari tiga juta itu,” tegas Danang.
Ia pun menegaskan kembali pentingnya kejelasan narasi yang disampaikan sejak awal agar masyarakat tidak salah memahami program ini sebagai pembangunan 3 juta unit rumah baru atau bahkan pemberian rumah secara cuma-cuma.
“Saya minta dari awal untuk disampaikan agar tidak terjadi missed persepsi dari masyarakat seluruh Indonesia raya,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa narasi yang kurang utuh bisa menjadi bumerang secara politik, terutama bagi Presiden Prabowo Subianto.
“Saya kira perlu disampaikan agar jangan sampai ini menjadi backfire kepada Bapak Presiden pada saat merasa masyarakat ini menerima bahwa tiga juta (rumah) baru, tiga juta (rumah) gratis ternyata seperti ini,” imbuhnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!