DAMRI Tak Kebagian PMN, PUKIS Kritik Lemahnya Komitmen Negara
Armada Bus DAMRI. /visi.news/ist
Pada kesempatan yang sama, PUKIS meminta manajemen DAMRI untuk terus memperkuat tata kelola dan pelayanan meskipun modal dan sumber daya yang ada saat ini dirasa masih belum memadai. Menurut PUKIS, DAMRI harus merevitalisasi dan mengoptimalkan tujuh segmen usahanya, yakni angkutan kota, angkutan antarkota, angkutan lintas batas negara, angkutan bandara, angkutan pariwisata, angkutan logistik, dan angkutan perintis. Selama ini angkutan bandara masih menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan, padahal segmen antarkota, pariwisata, lintas batas negara, dan logistik masih sangat potensial untuk dimaksimalkan. DAMRI juga dapat mempertimbangkan lini usaha baru yang potensial, misalnya dengan mengusahakan aset tanah dan bangunan yang banyak menganggur (idle).
Terakhir, PUKIS mengatakan bahwa DAMRI masih menjadi pemain utama dan terbesar dalam kancah angkutan darat di Indonesia. Jaringan yang sudah ada di hampir seluruh kota di Indonesia ini mestinya didayagunakan untuk mewujudkan Asta Cita. Apalagi krisis energi sudah di depan mata dan seharusnya ini menjadi momentum untuk mendorong penggunaan transportasi publik di Indonesia. Karena itu, peran DAMRI sebagai perusahaan angkutan umum milik negara mestinya dapat diperkuat. “Kita bicara soal pemerataan dan keadilan dalam bertransportasi, dan hal ini adalah bagian dari Asta Cita yang dijanjikan Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas Gibran.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!