Curug Roda: Keindahan yang Kurang Sentuhan
Mengunjungi curug bukan semata soal berburu foto cantik. Banyak orang datang untuk mencari jeda, menenangkan pikiran, atau sekadar tadabbur alam—merenungi dan mensyukuri ciptaan Tuhan. Karena itu pesannya sederhana tapi penting: jaga alam. Jangan buang sampah sembarangan, bawa kembali sampahmu, dan hormati tempat yang sudah memberi keindahan tanpa pamrih.
Di balik perlahan dikenalnya Curug Roda, ada mimpi besar yang terus dijaga agar tetap menyala. Bagi Dindin Rusad Nurdin, S.Sos, Kepala Desa Mekarjaya, mimpi tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dicatat, didiskusikan, dimusyawarahkan, lalu diwujudkan. Curug Roda adalah salah satu mimpi itu—mimpi tentang kesejahteraan warga lewat pariwisata berbasis alam.
Desa Mekarjaya sendiri lahir dari pemekaran Desa Tenjonagara pada 1984. Namanya bermakna “mekar” dan “jaya”—desa yang terus berkembang dan lestari. Filosofi itu kini dicoba diterjemahkan lewat pengembangan Taman Wisata Curug Roda. Sejak rapat koordinasi 4 Juni 2021, bersama perangkat desa, Babinsa, RW, RT, dan relawan, arah pengelolaan mulai disusun. Fokusnya bukan hanya wisata, tetapi juga pelibatan masyarakat dan generasi muda sebagai penjaga masa depan alam mereka sendiri.
Curug Roda mungkin belum sempurna. Jalannya masih sempit, penataannya belum tuntas. Tapi justru di sanalah keindahannya tumbuh—sebuah destinasi yang bukan hanya menawarkan panorama, melainkan juga cerita tentang mimpi, kerja bersama, dan harapan. Sebuah ajakan halus untuk datang, menikmati, lalu pulang dengan rasa tanggung jawab: menjaga agar keindahan ini tetap ada untuk esok hari.***
@aep sa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!