Cuaca Ekstrem, Ulah Manusia, dan Isyarat Al Quran 14 Abad Silam
Karena di saat itu, bumi sudah sama sekali tidak menurunkan air hujan. Mendung hanya sebatas mendung, tanpa hujan. Orang-orang di masa itu sudah mengetahuinya, sebab itu dalam pandangan mereka tidak ada gunanya mengharapkan hujan walau awan sudah mendung, terlihat buncit bak unta bunting.
Adapun hewan-hewan berkumpul, itu sudah menjadi tabiatnya, instingnya akan membuat mereka berkerumun ketika bencana terjadi. Ayat tersebut ingin menunjukkan bumi sudah kacau dan bencana terjadi di mana-mana.
Terlebih ayat yang mengungkapkan laut dipanaskan. Ayat tersebut seolah dengan tepat menggambarkan pemanasan global, ketika suhu bumi sudah semakin panas, air laut akan membanjiri daerah pesisir karena es kutub mencair. Isyarat bahwa alam sudah tidak lagi seimbang akibat ulah manusia yang merusaknya. (Lihat selengkapnya Ibnu ‘Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, juz 30, hlm. 142)
Kemudian Allah SWT berfirman:
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ
“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS At-Takwir :14)
Ayat ini seolah menceritakan bagaimana manusia baru menyadari apa yang telah ia perbuat, setelah planet yang dia tinggali sudah tidak layak huni.
Boleh jadi, “ramalan” Al Quran di atas sengaja “dibocorkan” kepada umat manusia agar manusia mawas diri dan berusaha sekuat tenaga agar ramalan buruk itu setidaknya tidak buru-buru terjadi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!