Cuaca Ekstrem, Ulah Manusia, dan Isyarat Al Quran 14 Abad Silam
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia mengalirkannya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian, dengan air itu Dia tumbuhkan tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian ia menjadi kering, engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian Dia menjadikannya hancur berderai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi ululalbab.” (Qs az-Zumar :21)
Sudah jelas, ayat barusan menunjukkan Allahn SWT menghendaki bumi ini menjadi tempat bernaung yang nyaman bagi seluruh makhluk hidup. Akan tetapi, manusia abad ini, sepertinya berkehendak lain.
Jangankan menjaga bumi untuk makhluk lain, sebagaimana seharusnya seorang khalifah, manusia bahkan membawa bumi untuk menghancurkan spesiesnya sendiri.
Bagaimana kengerian alam sudah menjadi tak bersahabat akibat ulah manusia, telah terprediksi dan tervisualilasi dengan utuh dalam Alquran yang turun 14 abad lalu. Allah SWT berfirman:
وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ وَاِذَا البِحَارُ سُجِّرَتْ
“Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus), apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, apabila lautan dipanaskan.” (QS al-Takwir : 4-6)
Pemaknaan ayat di atas, jelas Ibnu ‘Asyur, seorang ahli tafsir yang masyhur berkat tafsir bercorak maqasidinya, tidak hanya dilihat dari permukaan teks saja. Unta-unta bunting pada ayat di atas, dapat juga diartikan sebagai metafor dari awan mendung.
Orang Arab biasa mengungkapkan awan mendung yang sudah terlihat akan meneteskan air hujan sebagai unta bunting karena memang bentuknya serupa. Mengapa awan mendung sebagai hal paling ditunggu orang yang tinggal padang pasir sudah tidak dihiraukan?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!