Citayam Fashion Week dan Raibnya Moralitas Generasi Muda Kita
Banyak sekali pertanyaan bergelayut di benak saya, apalagi membayangkan fenomena Citayam Fashion Week yang kabarnya saat ini mulai menjamur dan di-copy paste di berbagai daerah lainnya.
Adakah norma dan batasan yang masih terjaga sebagaimana budaya dan ajaran agama yang selama ini kita percaya?
Jika kita tilik lebih jauh, kelompok “SCBD” ini terdiri dari remaja yang berusia kisaran belasan tahun dan memiliki kondisi status sosial yang rendah serta putus sekolah sehingga ketika tawaran untuk merasakan kembali bangku pendidikan, di saat iming-iming kemandirian finansial yang menghampiri, tentu saja mereka lebih memilih untuk mandiri finansial daripada kembali ke bangku sekolah yang dulu pernah gagal dicapainya.
Kerasnya kehidupan yang menempa, juga keinginan untuk diakui identitasnya sebagaimana WHO mengidentifikasi bahwa masa remaja merupakan suatu masa di mana individu berkembang dari saat pertama kali yang menunjukkan perubahan pada seksualitas sampai mencapai kematangan seksualitasnya, mereka akan mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa, dan terjadi peralihan dari ketergantungan sosial yang penuh, kepada keadaan yang relatif menjadi lebih mandiri.
Ketidakmampuan dalam mengidentifikasi masa kanak-kanak mereka menuju masa dewasa, atau bisa dikatakan dalam proses pencarian jati diri menyebabkan mereka melakukan tindakan yang sulit dipertanggungjawabkan.
Seringkali mereka menjustifikasi setiap perbuatannya benar dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Adu gaya di ruang terbuka, bercumbu mesra dengan lawan jenis menjadi peristiwa sehari-hari yang kita temui di Citayam Fashion Week. Mereka berargumen di balik kata kebebasan berekspresi.
Lebih jauh, seringkali masyarakat kita menyalahkan dan mempermasalahkan masalah ini karena rendahnya tingkat pendidikan yang mereka miliki. Padahal bisa jadi pendidikan moral yang kita berikan tidak benar-benar sampai dan menyentuh hati mereka. Atau jangan-jangan kita lebih sering membincang masalah moral dan akhlak di forum-forum tertutup, tanpa benar-benar berinteraksi dengan generasi muda kita secara langsung.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!