CATATAN SEPAK BOLA | Suara Hati Spaso dan Kompetisi Liga
Segala macam hal sudah keluar. Air mata sudah tercurah dan nyaris habis. Sumpah serapah terhadap pihak-pihak yang dituding menyebabkan tragedi itu bertebaran, di tempat umum hingga media sosial. Penanganan persoalan hukum sedang berjalan, investigasi tim pencari fakta pun sudah menghasilkan rekomendasi-rekomendasi.
Tapi, belum ada tanda-tanda pasti, kapan kompetisi bergulir. Pemerintah, yang memiliki otoritas terhadap izin pertandingan dan keramaian, belum memberikan sinyal terang. Lalu kalau kompetisi tidak segera bergulir siapa korbannya? Tak sedikit. Ada sekitar 112 ribu orang. Mereka adalah pihak-pihak yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan kompetisi. Itu di luar pecinta bola.
Hasil kajian Universitas Indonesia, selama satu musim Kompetisi Liga 1, agenda tersebut menggerakkan tenaga kerja sekitar 112 ribu orang itu. Mereka mulai dari pemain, pelatih, pekerja klub, pedagang merchandise, jersey, jasa transportasi, perhotelan, katering, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Karena tak adanya kejelasan soal kompetisi, pihak-pihak yang terkait langsung mulai kelimpungan. Sriwijaya FC, misalnya, membubarkan timnya. Beban finansial makin bengkak karena tak ada kejelasan soal kapan Kompetisi Liga 2 mulai digelar kembali.
Madura United juga memulangkan pelatih dan pemain asingnya. Alasannya serupa, kompetisi penuh ketidakpastian. Pun PSIS Semarang, ditinggal pelatih kipernya, Rory Grand, yang pulang ke Inggris meski ditawarkan kontrak baru.
Atau, Persib Bandung, sempat galau. Takut ditinggal pelatih Luis Milla. Pasalnya, di tengah kompetisi yang terhenti, terbetik kabar mantan pelatih tim U-21 Spanyol itu dilirik klub Meksiko.
Memantau nasib pemain yang terpantau di klub sudah pasti gampang. Yang sulit adalah memantau bagaimana nasib Mak Inah, pedagang cilok di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api, nasib Pak Toyo pedagang gorengan di Stadion Manahan Solo, nasib Mang Ujang yang berdagang jersey di Stadion Pakansari Bogor, dan mereka lain yang ikut menggantungkan hidupnya di sekitar stadion kala pertandingan sepakbola berlangsung.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!