Catatan Diskusi Kaleidoskop Media Massa 2025 Negara, Media Massa dan Ancaman Kualitas Manusia
Global Anxiety
Fenomena Global Anxiety (kecemasan global) saat ini telah menjadi era. Banyak ahli menyebut era ini sebagai "The Age of Anxiety". Karena tumpukan krisis terjadi secara bersamaan di seluruh dunia. Atau disebut “Polycrisis” (krisis yang saling bertautan satu sama lain).
Di dunia, angkanya mencapai 8 hingga 10 persen dari populasi menderita ini. Di Indonesia sekitar 32 juta orang (yang tercacat based on medical). Bayangkan yang tidak tercacat. Artinya di dunia ini ada milyaran orang (puluhan juta di Indonesia) hidup dengan gangguan kesehatan mental dan depresi.
World Economic Forum mencatat nilai kerugian ekonomi akibat hilangnya produktivitas yang dipicu penyakit ini mencapai USD 1 trilyun per tahun. Karena penderitanya merasa waspada secara berlebihan (hyper-vigilance). Kesulitan merencanakan masa depan jangka panjang. Mengalami gangguan tidur dan kelelahan mental (burnout) yang kronis.
Apa penyebab penyakit ini? Paparan informasi buruk secara terus-menerus (doomscrolling). Hoaks, Miscaption, Deepfake, dan Sesat Pikir masuk ke tubuh kita melalui gadget di tangan. Survei Digital News Report 2025, menyebut 57% penduduk Indonesia mendapatkan informasi melalui media sosial. Bukan media massa. Sehingga timeline di media sosial saat ini menjadi instrumen opini publik. Bukan lagi instrumen chat atau obrolan. Group WA dipenuhi forward informasi (gambar/video) apapun.
Dis-informasi (hoaks, miscaption, deepfake, dan sesat pikir) ini bekerja seperti "polusi mental" yang merusak cara kita berpikir dan merasa. Bahayanya tidak hanya pada tingkat individu. Tetapi juga pada stabilitas masyarakat secara luas. Karena materi itu dirancang untuk memicu emosi ekstrem: ketakutan, kemarahan, rasa jijik, apriori dan penyakit mental sejenis.
Siapa pembuat atau produsennya? Tentu bisa dibahas di lain waktu. Karena akan sangat multi analisis. Termasuk akan menyentuh domain teori konspirasi dan cyber war.
Yang terpenting adalah negara, terutama Indonesia harus diingatkan ancaman ini. Jika masih ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045. Bukan Indonesia cemas. Di sinilah media massa harus mengambil peran serius. Sebagai vaksin dis-informasi. Tentu bukan pekerjaan mudah. Karena di Indonesia, portal khusus seperti Cekfakta dan Turnbackhoax ternyata masih “keteteran” mengejar kecepatan produsen dis-informasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!