Cara Kurangi Paparan Abu Vulkanik, Begini Langkah Perlindungannya
Ilustrasi./visi.news/gentra.
VISI.NEWS - Warga yang berada di wilayah terdampak persebaran abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi dianjurkan menerapkan sejumlah langkah perlindungan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Ahli kesehatan paru Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), menjelaskan abu vulkanik memiliki butiran sangat halus sehingga dapat masuk hingga ke dalam paru-paru ketika terhirup.
"Abu ini membuat saluran napas menjadi teriritasi. Butirannya sangat halus, jadi bisa terhirup sampai ke dalam paru dan memicu batuk serta sesak," kata Erlina Burhan dalam keterangannya dikutip, Rabu (9/9/2026).
Menurut dokter spesialis paru-paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut, paparan abu juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan pada sebagian orang.
"Pada sebagian orang, risiko infeksi saluran napas juga meningkat," kata dokter spesialis paru-paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Gunakan Masker Saat Beraktivitas di Luar
Erlina menganjurkan warga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, khususnya di wilayah yang terdampak persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
"Kenakan masker ya bila beraktivitas di luar rumah. Sebaran abu Anak Krakatau kini mencakup sebagian Jakarta, Banten dan Jawa Barat," katanya.
Masker yang telah kotor sebaiknya segera diganti dengan yang baru. Sebelum dibuang, masker tersebut dianjurkan dibasahi terlebih dahulu agar abu yang menempel tidak kembali beterbangan ke udara.
Bersihkan Rumah dengan Cara Basah
Selain melindungi saluran pernapasan, kebersihan lingkungan juga perlu diperhatikan untuk mengurangi abu yang beterbangan.
Pekarangan dan lingkungan rumah sebaiknya disiram menggunakan air terlebih dahulu sebelum disapu. Cara tersebut bertujuan mencegah debu dan abu vulkanik kembali beterbangan ke udara.
Langkah serupa dapat diterapkan ketika membersihkan bagian dalam rumah.
"Hal yang sama juga berlaku untuk bagian dalam rumah. Kaca jendela, kusen, daun pintu, sebaiknya dibasahi lebih dulu baru dilap," kata Erlina.
Erlina juga mengingatkan warga untuk tidak menggunakan kemoceng maupun sapu kering ketika membersihkan abu vulkanik.
"Hindari (penggunaan) kemoceng dan sapu kering, karena keduanya hanya memindahkan abu dari permukaan ke udara yang kita hirup," tambahnya.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Erlina mengatakan sebagian besar gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik dapat membaik dengan sendirinya setelah persebaran abu berhenti. Karena itu, masyarakat tidak perlu terlalu panik dalam menghadapinya.
Namun, gangguan yang lebih berat seperti luka pada mata atau masalah paru-paru dapat terjadi pada individu yang terus-menerus menghirup udara berdebu tanpa pelindung dalam jangka panjang.
Karena itu, perlindungan perlu lebih diperhatikan oleh kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, seperti anak-anak, warga lanjut usia, ibu hamil, orang dengan asma, dan orang dengan penyakit pernapasan menahun.
Kelompok tersebut dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung ketika harus keluar rumah.
Segera Periksa Jika Keluhan Memburuk
Erlina menekankan pentingnya menerapkan langkah perlindungan secara konsisten selama wilayah tempat tinggal masih terdampak abu vulkanik.
"Cukup lakukan hal-hal sederhana itu dengan konsisten. Namun, bila sesak memberat, mata terasa nyeri dan penglihatan mengabur, atau keluhan tak juga mereda dalam beberapa hari, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat ya," katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!