Bursa Saham Asia Anjlok 6%: 5 Fakta Mengejutkan Saat Harga Minyak Dunia Tembus US$100
Beberapa perusahaan semikonduktor yang menjadi tulang punggung industri teknologi global juga mengalami tekanan besar. Saham perusahaan chip seperti, Advantest dan Lasertec keduanya tercatat merosot lebih dari 9 hingga 10 persen.
Penurunan tajam ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa biaya energi yang meningkat akan menekan profitabilitas sektor teknologi, terutama perusahaan yang bergantung pada rantai produksi global dan konsumsi listrik besar.
Selain itu, pelemahan sektor teknologi juga dipicu oleh kekhawatiran bahwa bank sentral dunia akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Korea Selatan Ikut Tertekan, Indeks KOSPI Merosot Tajam
Tidak hanya Jepang, pasar saham Korea Selatan juga mengalami tekanan besar ketika bursa saham Asia anjlok pada perdagangan Senin pagi.
Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, tercatat turun sekitar 6,5 persen. Penurunan ini bahkan memicu penghentian sementara perdagangan kontrak berjangka indeks Kospi 200 melalui mekanisme circuit breaker.
Aksi jual besar-besaran juga terjadi pada saham teknologi utama Korea Selatan. Saham raksasa elektronik dunia, Samsung Electronics, tercatat jatuh lebih dari 8 persen.
Sementara itu, produsen chip memori global, SK Hynix, mengalami penurunan lebih dalam hingga sekitar 9 persen.
Para analis menilai pasar Korea Selatan sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi karena negara tersebut merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!