Bromo Ditutup, 107.000 Hektare Lahan Terbakar

ED
PN
Minggu, 9 Agustus 2026 | 14:52 WIB
Bagikan
Bromo Ditutup, 107.000 Hektare Lahan Terbakar

VISI.NEWS — Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan setelah kebakaran melanda kawasan savana Gunung Bromo, Jawa Timur.

Kebakaran yang mulai terjadi pada 3 Agustus 2026 itu hingga 7 Agustus telah membakar sedikitnya 127 hektare lahan. Upaya pemadaman masih dilakukan karena api berada di medan terjal dan sulit dijangkau oleh petugas di lapangan.

Dua helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu pemadaman dari udara. Namun, proses pemadaman menghadapi kendala berupa kondisi medan dan arah angin yang berubah-ubah.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan titik api berada di kawasan dengan medan curam dan berupa tebing sehingga menyulitkan petugas melakukan pemadaman secara langsung.

Petugas juga harus mempertimbangkan kondisi angin yang dapat memengaruhi arah dan kecepatan rambatan api.

Penutupan kawasan wisata

Akibat kebakaran tersebut, pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup akses wisata melalui sejumlah pintu masuk.

Tiga jalur yang ditutup meliputi Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro. Penutupan dilakukan sampai kondisi dinyatakan aman dan aktivitas kebakaran dapat dikendalikan.

Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas dalam melakukan penanganan kebakaran.

Kawasan Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menjadi tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena itu, penutupan kawasan juga berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.

Pelaku usaha wisata, pemandu, pengemudi kendaraan wisata, pedagang, hingga penyedia jasa akomodasi di sekitar kawasan Bromo ikut merasakan dampak dari berkurangnya aktivitas wisata selama penutupan.

107.000 hektare terbakar dalam enam bulan

Kebakaran di Bromo menjadi perhatian lebih besar karena terjadi ketika Indonesia tengah menghadapi musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan lebih dari 107.000 hektare lahan di Indonesia terbakar sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Angka tersebut bahkan telah melampaui luas lahan yang terbakar sepanjang 2023.

Kondisi ini menjadi perhatian karena periode puncak musim kemarau masih berlangsung. Artinya, potensi kebakaran hutan dan lahan masih dapat meningkat apabila kondisi kering dan minim hujan terus bertahan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG sebelumnya telah mengingatkan adanya potensi musim kemarau yang lebih intens dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah.

Fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan karena dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan dan meningkatkan kondisi kering di berbagai wilayah.

Bromo bukan kebakaran pertama

Kebakaran di kawasan Bromo bukan kejadian baru. Pada 2023, kebakaran besar juga pernah melanda kawasan tersebut.

Kebakaran pada 2023 dipicu oleh penggunaan flare dalam kegiatan pemotretan prapernikahan. Api kemudian membakar kawasan savana dan meluas hingga lebih dari 500 hektare.

Dibandingkan kebakaran pada 2023, luas area yang terbakar dalam kejadian kali ini masih lebih kecil. Namun, situasinya tetap mendapat perhatian karena kebakaran terjadi pada periode kemarau dengan kondisi vegetasi yang relatif kering.

Selain itu, lokasi api yang berada di medan terjal membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit.

Pemadaman mengandalkan dukungan udara

Medan yang sulit dijangkau membuat pemadaman tidak hanya mengandalkan personel di darat.

Dua helikopter water bombing digunakan untuk menjatuhkan air dari udara ke lokasi kebakaran. Penggunaan pesawat atau helikopter dalam penanganan kebakaran menjadi penting ketika titik api berada di lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan maupun petugas secara langsung.

Namun, efektivitas pemadaman udara tetap dipengaruhi kondisi cuaca, terutama arah dan kecepatan angin.

Petugas yang terlibat dalam operasi pemadaman juga harus memastikan proses penanganan tidak membahayakan personel yang bekerja di kawasan dengan kontur ekstrem.

Risiko kebakaran masih tinggi

Lonjakan luas lahan terbakar sepanjang enam bulan pertama 2026 menjadi sinyal bahwa risiko kebakaran masih tinggi.

Kondisi lahan yang kering, minimnya curah hujan dan angin dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi sumber penyulutan.

Kondisi tersebut juga meningkatkan tantangan bagi pemerintah dalam melakukan pencegahan dan penanganan kebakaran, terutama di wilayah dengan tutupan vegetasi yang mudah terbakar.

Kementerian Kehutanan memiliki sejumlah mekanisme penanganan kebakaran hutan dan lahan, termasuk sistem peringatan dini, patroli lapangan, pemantauan titik panas, serta pengerahan personel dan peralatan ketika terjadi kebakaran.

Namun, peningkatan luas area terbakar menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pemadaman harus dilakukan secara lebih cepat dan terintegrasi.

Dampak tidak hanya pada lingkungan

Kebakaran di kawasan Bromo tidak hanya mengancam ekosistem dan kawasan konservasi.

Penutupan taman nasional juga berdampak terhadap masyarakat yang bergantung pada aktivitas wisata.

Ketika wisatawan tidak dapat memasuki kawasan Bromo, pendapatan pengemudi jeep, pemandu wisata, pedagang, pengelola penginapan, restoran, hingga pelaku usaha kecil di sekitar kawasan ikut terdampak.

Dampak ekonomi tersebut dapat berlangsung selama penutupan kawasan masih diberlakukan.

Di sisi lain, apabila kebakaran meluas, masyarakat di sekitar kawasan juga berpotensi menghadapi dampak asap dan gangguan kualitas udara.

Karena itu, penanganan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga perlindungan masyarakat, lingkungan, dan keberlangsungan ekonomi lokal.

Puncak kemarau masih menjadi perhatian

Kebakaran Bromo terjadi pada awal Agustus ketika kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung.

Situasi tersebut membuat beberapa pekan ke depan menjadi periode penting dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Apabila curah hujan belum meningkat secara signifikan, vegetasi yang semakin kering dapat menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

Angin juga dapat mempercepat penyebaran api dari satu titik ke titik lainnya.

Karena itu, pemerintah dan pengelola kawasan konservasi perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki sejarah kebakaran dan kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan.

Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk penggunaan api secara sembarangan di kawasan hutan dan savana.

Bromo menjadi peringatan

Kebakaran seluas 127 hektare di Bromo menjadi perhatian karena terjadi di tengah angka kebakaran nasional yang telah mencapai lebih dari 107.000 hektare hanya dalam enam bulan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan pada 2026 bukan hanya persoalan lokal di satu kawasan.

Kebakaran Bromo menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya tantangan pengelolaan kawasan alam selama musim kemarau.

Dengan kondisi musim kering yang masih berlangsung, keberhasilan pemerintah mengendalikan kebakaran pada pekan-pekan berikutnya akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah peningkatan luas lahan terbakar dapat ditekan atau justru terus bertambah.

Untuk sementara, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru masih ditutup hingga kondisi dinyatakan aman.

Petugas terus melakukan pemantauan dan pemadaman terhadap titik-titik api, sementara masyarakat dan wisatawan diminta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kondisi kawasan.

Bagi sektor pariwisata, penutupan Bromo menjadi pukulan sementara. Namun, bagi upaya perlindungan lingkungan, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan keselamatan wisatawan sekaligus memberi kesempatan kepada petugas menangani kebakaran secara maksimal.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.