Bom Kuningan 2004 di Mata Penyintas dan Pentingnya Peran Persuasif Ulama
Jabodetabek, ujarnya, menjadi menarik karena kasus terorisme di Jakarta pelakunya tinggal di Bekasi, Bogor maupun Tangerang. Dia menegaskan, energi positif dari para kiai, ustaz dan ustazah sangat krusial untuk ditularkan bagi jamaahnya agar dapat mencegah aksi terorisme dan ekstrimisme.
Dia mengingatkan, bila terjadi perbedaan agar jangan dimusuhi, tetapi diajak berdialog.
“Dan kembalikan pada Islam wasathiyah yang menjadi ciri keislaman yang ada di Indonesia,” ujar dia.
Ketua MUI Kota Tangerang, KH Ahmad Baijuri Khotib, mengatakan tokoh- tokoh agama di Kota Tanggerang membentuk Forum Benteng Toleransi. Hal ini salah satu ikhtiar dan upaya agar Kota Tanggerang terhindar kebencian-kebencian sehingga menimbulkan radikal, radikal naik menjadi ekstrem dan ujungnya menjadi teroris.
“Beragama itu membutuhkan ketenangan, kedamaian ketika kita berpijak disatu tempat, di satu negri misalnya dalam persoalan haji, haji itu menjadi wajib hukumnya ketika dalam perjalananya negri tujuan kita berhaji ke Arab Saudi itu dianggap aman, bebas dari radikalisme, tidak ada terorisme di sana,” jelas Kiai Ahmad.
Kiai Ahmad juga menyampaikan bahwa hal tersebut seperti dalam ibadah salat, tidak mungkin bisa salat dengan khusyuk kalau kemudian kampung atau kota di negeri kita sedang dilanda peperangan akibat kebencian- kebencian.
Dari kegiatan ngaji kebangsaan ini KH Ahmad berharap dapat menambah wawasan bagi para tokoh yang ada di lingkungan masing-masing. @fen
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!