Bom Kuningan 2004 di Mata Penyintas dan Pentingnya Peran Persuasif Ulama
“Ketika saya diajak bercerita tentang bagaimana ledakan bom itu berlangsung pun, baru setengah jalan saya sudah menangis,” jelasnya.
Akhirnya dia tidak pernah sampai selesai menceritakan peristiwa tragis itu. Baru pada 2015, dia bertemu dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Di sanalah dia mulai secara perlahan mengobati traumanya.
“Aliansi Indonesia Damai (AIDA) ini memfasilitasi pertemuan dengan para teroris yang terlibat dengan aksi pengeboman di sejumlah tempat di Indonesia. Termasuk dengan para pelaku aksi teror yang melukainya,” tuturnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua BPET MUI, Muhammad Syauqillah, mengatakan, peran ulama di akar rumput menjadi sangat penting dalam mencegah aksi terorisme dan ekstremisme.
Menurutnya, para ulama, kiai, ustaz dan ustazah memiliki energi yang positif yang bisa ditularkan pada jemaahnya.
“Saya yakin sudah pada Islam Wasathiyah, sudah sangat rahmatan lil alamin, jauh dari ekstremisme dan terorisme. Makanya energi yang positif di para kiai semua itu perlu ditularkan ke generasi muda,” ujarnya.
Apalagi, ungkapnya, tantangan sekarang ini lebih berat karena aksi terorisme melibatkan anak perempuan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!